Tak Terima Kritik BPOM soal Vaksin Nusantara, DPR: AstraZeneca Dibuang Saja

Tak Terima Kritik BPOM soal Vaksin Nusantara, DPR: AstraZeneca Dibuang Saja
Ilustrasi vaksin Corona. (Foto: iStock)

Jakarta, Aceh Bisnis - Dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX, anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menghentikan pemberian izin penggunaan darurat (EUA) untuk vaksin hasil produksi luar negeri.

Hal ini dikarenakan alotnya pemberian Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis tahap II dari BPOM pada vaksin Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan RI dr Terawan Agus Putranto.

"Saya minta, setiap vaksin yang datang ke RI ini protokolnya dibuat sama. Tolong itu AstraZeneca jangan dipakai dulu, kalau perlu buang saja itu lalu dipulangkan, walaupun itu vaksin gratis. Karena protokolnya tidak sama dengan kemarin Sinovac itu," kata Saleh dalam raker Komisi IX yang disiarkan melalui YouTube, Rabu (10/3/2021).

Saleh menilai, BPOM tidak konsisten dalam memberikan izin penggunaan vaksin. Ia juga menyorot vaksin AstraZeneca yang belum lama lolos masuk, meski tidak melalui uji klinis di Indonesia. Sementara, ia merasa vaksin Nusantara ini cenderung dipersulit dalam hal perizinannya.

"Ini giliran vaksin Nusantara kenapa ini harus begono-begini, sementara pada saat vaksin asing datang ke Indonesia, EUA dipercayakan kepada negara lain," lanjutnya.

Selain itu, Saleh juga menuding bahwa BPOM tidak lagi independen dan memiliki dasar ganda. Sebab, dalam pemaparan BPOM salah satu alasan pemberian PPUK uji klinis fase II vaksin Nusantara tidak diberikan, karena uji pra klinis pada binatang dilakukan pihak sponsor dari AIVITA Biomedical, Amerika Serikat.

Menanggapi hal ini, Kepala BPOM Penny K Lukito menegaskan BPOM adalah lembaga yang independen dan transparan. Ia juga mengatakan akan mendukung pengadaan vaksin Nusantara.

Namun, Penny menekankan bahwa seluruh proses pengembangan vaksin, termasuk vaksin Nusantara ini harus lolos tahapan yang berbasis ilmiah.

"BPOM akan transparan, kami tidak memiliki kepentingan untuk menutupi apapun. Tapi, ini merupakan sebuah proses yang berbasis scientific," tegasnya.

Seperti diketahui, vaksin AstraZeneca sudah mendapatkan izin EUA pada 22 Februari lalu, dengan efikasi 62,1 persen. Beberapa negara sudah mengeluarkan izin penggunaan darurat terlebih dulu.

"Apabila sudah mendapatkan emergency use authorization dari negara lain akan lebih mudah lagi, karena akan kita lihat kelayakan baiknya evaluasi tersebut sehingga akan lebih cepat," kata Penny beberapa waktu lalu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga sudah menyetujui penggunaan AstraZeneca, dan masuk ke dalam daftar penggunaan darurat (EUL) dari WHO.

Sumber:detik.com