Sudah Tahu Belum, Perbedaan Virus Corona dan Pilek Biasa

Sudah Tahu Belum, Perbedaan Virus Corona dan Pilek Biasa
Perbedaan Virus Corona dan Pilek Biasa / Foto: shutterstock

Jakarta, Acehbisnis.com - Virus Corona memang memiliki gejala-gejala yang sama dengan flu atau pilek biasa, sehingga pada awalnya virus ini mungkin sedikit sulit untuk terdeteksi. Namun sebenarnya terdapat beberapa perbedaan yang dapat dilihat dari virus Corona dan pilek atau flu biasa. Agar kamu lebih paham, seperti dikutip dari Live Science, berikut ini beberapa perbedaan virus Corona dan pilek biasa.

Gejala dan Keparahan

Jika melihat dari gejalanya, sebenarnya agak sulit untuk membedakan virus Corona dengan pilek atau flu biasa. Kedua virus musiman, seperti influenza A dan influenza B, serta COVID-19 atau virus Corona sama-sama merupakan virus menular yang menyebabkan penyakit pernapasan. Keduanya juga memiliki gejala yang sama, seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit otot, sakit kepala, pilek atau hidung tersumbat, kelelahan, dan kadang-kadang juga bisa menimbulkan muntah dan diare. Biasanya gejala flu muncul secara tiba-tiba. Tetapi pada beberapa orang, flu dapat menyebabkan komplikasi, termasuk pneumonia.

Sedangkan untuk COVID-19 atau virus Corona, dokter masih berusaha memahami gambaran lengkap dari gejala dan keparahan penyakitnya. Hal ini dikarenakan gejala yang dilaporkan dari para pasien Corona bervariasi dari ringan hingga berat, dan dapat meliputi demam, batuk, dan sesak napas.

Secara umum, dari penelitian yang dilakukan pada pasien rawat inap telah ditemukan bahwa sekitar 83% hingga 98% pasien Corona mengalami demam, 76% hingga 82% mengalami batuk kering dan 11% hingga 44% mengalami kelelahan atau nyeri otot. Hal ini dinyatakan oleh sebuah penelitian mengenai COVID -19 yang diterbitkan pada 28 Februari di jurnal JAMA. Gejala-gejala lain, termasuk sakit kepala, sakit tenggorokan, sakit perut, dan diare, telah dilaporkan, tetapi jarang terjadi.

Penelitian terbaru lainnya, yang dianggap sebagai yang terbesar mengenai kasus COVID-19 hingga saat ini dari Pusat Pengendalian dan Perlindungan Penyakit China, menganalisis 44.672 kasus yang dikonfirmasi di Tiongkok antara 31 Desember dan 09 Februari 2020. Dari semua kasus itu, 80,9 % (atau 36.160 kasus) dianggap ringan, 13,8% (6.168 kasus) parah dan 4,7% (2.087) kritis.

"Kasus-kasus kritis adalah yang menunjukkan kegagalan pernapasan, syok septik, dan / atau disfungsi / kegagalan banyak organ," tulis para peneliti dalam makalah yang diterbitkan di China CDC Weekly itu.

Penting untuk dicatat bahwa menurut WHO, virus pernapasan juga dapat menyebabkan gejala yang sama dengan virus Corona, sehingga sangat sulit untuk membedakannya dengan hanya melihat gejalanya saja.

Tingkat Kematian

Perbedaan virus Corona dan pilek biasa yang kedua bisa dilihat dari tingkat kematiannya. Menurut The New York Times, tingkat kematian akibat flu atau pilek biasa di Amerika Serikat biasanya sekitar 0,1% sedangkan untuk kasus COVID-19 atau virus Corona jauh lebih tinggi. Menurut penelitian dari China CDC Weekly, para peneliti menemukan tingkat kematian akibat COVID-19 atau virus Corona sekitar 2,3% di China. Penelitian lain dari New England Journal of Medicine menemukan bahwa angka kematian keseluruhan dari sekitar 1.100 pasien yang dirawat di rumah sakit di China sedikit lebih rendah, yaitu sekitar 1,4%.

Sebenarnya, tingkat kematian dari COVID-19 atau virus Corona ini bervariasi, tergantung pada lokasi dan usia dari para penderita, dan faktor-faktor lainnya. Di provinsi Hubei, China, sumber dari virus Corona, tingkat kematian mencapai 2,9%. Di provisi lain di China, tingkat kematian hanya 0,4% menurut China CDC Weekly Study.

Sedangkan tingkat kematian menjadi jauh lebih tinggi bagi orang-orang yang lanjut usia, yaitu sekitar 14,8% untuk yang berusia 80 tahun ke atas. Untuk usia antara 70 hingga 79 tahun, tingkat kematian berkurang menjadi 8%, usia 60 hingga 69 sebanyak 3,6%, usia 50 hingga 59 sebanyak 1,3%, usia 40 hingga 49 sebanyak 0,4%, dan usia 10 hingga 39 hanya sebanyak 0,2%. Tidak ada kasus kematian pada anak-anak di bawah usia 9 tahun yang dilaporkan.

Perbedaan virus Corona dan pilek atau flu biasa yang selanjutnya adalah dari penularan virusnya. Ukuran untuk menentukan seberapa mudah virus menyebar dikenal sebagai "angka reproduksi dasar" atau R0. R0 adalah perkiraan jumlah rata-rata orang yang menangkap virus dari satu orang yang terinfeksi. Menurut laporan dari The New York Times, flu memiliki nilai R0 sekitar 1,3. Sementara untuk COVID-19 atau virus Corona, para peneliti masih berusaha mencari tahu. Penelitian sebelumnya dari JAMA yang dipublikasikan pada 28 Februari memperkirakan nilai R0 untuk COVID-19 atau virus Corona baru yaitu antara 2 dan 3. Ini berarti setiap orang yang telah terinfeksi berpotensi menyebarkan virus ke rata-rata 2 hingga 3 orang.

Perkiraan dapat bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti lokasi, seberapa sering orang tersebut melakukan kontak langsung dengan orang lainnya dan usaha untuk mencegah infeksi virus masuk ke tubuh.

Risiko Terinfeksi

Menurut CDC, rata-rata sebanyak 8% orang di Amerika Serikat menderita sakit flu setiap musimnya. Pada 2 Maret dikabarkan ada sekitar 91 kasus dari COVID-19 atau virus Corona di Amerika Serikat. Kasus tersebut termasuk 43 kasus yang terdeteksi melalui pengawasan kesehatan masyarakat dan 48 kasus dari orang Amerika yang "dipulangkan" ke AS. Menurut CDC, virus yang baru muncul semacam ini selalu menjadi masalah kesehatan masyarakat, namun beberapa orang memiliki risiko terinfeksi yang lebih tinggi, seperti salah satunya petugas kesehatan.

Pandemik

Perbedaan virus Corona dan pilek atau flu biasa adalah melihat dari daerah penyebarannya. Jangan pernah menyamakan flu musiman atau tahunan dengan pandemi flu. Pandemi flu atau wabah global dari virus flu baru sangat berbeda dengan flu biasa. Seperti pada 2009 ada pandemi flu babi, yang diperkirakan menewaskan 151 ribu hingga 575 ribu orang di seluruh dunia menurut CDC.

Walaupun wabah virus Corona belum dinyatakan sebagai pandemi flu, namun WHO sudah menyatakan wabah Corona atau COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Hal ini dinyatakan karena kekhawatiran bahwa virus tersebut dapat menyebar ke negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih lemah. Pada 24 Februari, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom, Ghebreyesus, mengatakan bahwa virus Corona memiliki potensi untuk menjadi pandemi flu.

Pencegahan

Perbedaan virus Corona dan pilek atau flu biasa yang selanjutnya adalah dari cara pencegahannya. Tidak seperti flu biasa yang sudah memiliki vaksin untuk melindungi diri dari infeksi, COVID-19 belum memiliki vaksin pencegahannya. Hingga saat ini, para peneliti di Institut Kesehatan Nasional AS sedang dalam tahap awal mengembangkan vaksin pencegahan virus COVID-19.

Secara umum, CDC menyarankan untuk mencegah penyebaran virus pernapasan, yang meliputi virus Corona dengan cuci tangan sesering mungkin menggunakan sabun dan air setidaknya selama 20 detik, hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut menggunakan tangan yang belum dicuci, hindari kontak dengan orang yang sakit, tinggal di rumah saat sakit, dan bersihkan benda-benda yang sering disentuh.

Sumber:detik.com