Setelah Kudeta Aung San Suu Kyi, Militer Myanmar Mau Gelar Pemilu

Setelah Kudeta Aung San Suu Kyi, Militer Myanmar Mau Gelar Pemilu
Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi saat pertemuan bilateral Indonesia-Myanmar di sela-sela KTT ASEAN ke-34 di Bangkok, Thailand, Sabtu (22/6/2019). - ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Jakarta, Aceh Bisnis - Panglima militer Myanmar, Min Aung Hlaing, mengatakan militer akan menggelar pemilu baru segera setelah menyelesaikan implementasi status darurat, menurut pengumuman televisi militer Myawaddy TV setelah militer melancarkan kudeta militer dan menangkap pemimpin Aung San Suu Kyi dan pejabat senior lainnya pada Senin pagi.

Setelah militer Myanmar atau Tatmadaw mengumumkan bahwa mereka telah mengambil kendali negara pada pagi hari dan menyatakan status darurat satu tahun, panglima tertinggi mengatakan militer akan menyerahkan kekuasaan kepada pemenang pemilu.

Dalam pertemuan Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional (NDSC) baru yang dihadiri oleh pelaksana tugas Presiden U Myint Swe, Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan bahwa saat mengambil alih negara, militer akan mengikuti ketentuan dari Konstitusi 2008 yang dirancang militer dan undang-undang yang ada tidak melanggar itu, The Irrawaddy melaporkan.

Pelaksana tugas Presiden U Myint Swe menjabat sebagai wakil presiden di pemerintahan yang dipimpin Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Aung San Suu Kyi.

Dua pemerintah kuasi-sipil masing-masing menjalani satu masa jabatan selama 10 tahun terakhir setelah diperkenalkannya reformasi yang dipimpin militer.

Parlemen baru, yang sekarang telah dibubarkan oleh militer, dijadwalkan untuk memulai sesi pertamanya pada hari Senin.

Militer melancarkan kudeta hanya beberapa jam sebelum parlemen dijadwalkan duduk untuk pertama kalinya sejak kemenangan telak NLD dalam pemilihan umum Myanmar 8 November, Reuters melaporkan.

Militer Myanmar menyerahkan kekuasaan kepada Panglima Min Aung Hlaing yang langsung memberlakukan status darurat nasional selama setahun.

Saluran telepon ke Ibu Kota Naypyitaw dan pusat komersial utama Yangon tidak dapat dihubungi, dan TV negara mati. Orang-orang bergegas ke pasar di Yangon untuk membeli makanan dan persediaan sementara yang lain berbaris di ATM untuk menarik uang tunai.

Tentara mengambil posisi di balai kota di Yangon dan data internet seluler serta layanan telepon di kantor NLD terganggu, kata penduduk.

Konektivitas internet juga telah turun secara dramatis, kata layanan pemantauan NetBlocks.

Aung San Suu Kyi, Presiden Myanmar Win Myint dan para pemimpin NLD lainnya telah ditangkap militer Myanmar pada Senin (1/2/2021) subuh, kata juru bicara NLD Myo Nyunt mengatakan kepada Reuters melalui telepon.

Sumber:Bisnis.com