Selain Ancaman Tsunami Jawa Timur, Ini Daftar Potensi Bencana di RI

Selain Ancaman Tsunami Jawa Timur, Ini Daftar Potensi Bencana di RI
Ilustrasi tsunami (dok. Thinkstock)

Jakarta, Aceh Bisnis - Delapan kabupaten di Jawa Timur disebut berada dalam bayangan ancaman tsunami. Prediksi atau pemodelan terkait ancaman tsunami dan gempa ini juga pernah dikeluarkan untuk daerah lain.

Sebagaimana diketahui, BMKG menyebut ada peningkatan aktivitas kegempaan di Jawa Timur. Selain itu, ada sejumlah wilayah yang berpotensi tsunami jika dilanda gempa yang cukup besar.

Tak hanya kali ini saja ada pemodelan dan prediksi soal ancaman tsunami. Berikut ini kajian dan pemodelan terkait ancaman tsunami di berbagai daerah:

1. Ancaman Tsunami 57 Meter di Pandeglang

Peneliti tsunami pada Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko pernah membuat kajian yang mengungkap potensi tsunami setinggi 57 meter di Kabupaten Pandeglang, Banten. Tsunami ini juga berpotensi akan mencapai Jakarta Utara. Namun, itu semua masih bersifat kajian awal dari simulasi model komputer yang masih perlu dikaji lagi, untuk keperluan antisipasi dan mitigasi bencana.

Widjo mengatakan tsunami itu bisa terjadi karena di Jawa Barat tengah berpotensi terjadi gempa megathrust di daerah subduksi di selatan Jawa dan Selat Sunda. Salah satu contoh dampak gempa megathrust ini adalah adanya gempa di Banten pada akhir Januari 2018. Apabila kekuatan gempa mencapai 9 skala Richter di kedalaman laut yang dangkal, tsunami besar akan terjadi.

"Di Jawa Barat itu sumber gempa besar. Di situ bisa dikatakan di selatan bisa mencapai 8,8 Magnitudo atau 9 sehingga kaidah umum kalau di atas 7 Magnitudo dan terjadi di lautan dangkal sumbernya, maka potensi tsunami besar akan terjadi di daerah sana (Pandeglang)," kata Widjo di gedung BMKG, Jalan Angkasa Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (3/4/2018).

Widjo menyampaikan ini dalam diskusi sumber-sumber gempa bumi dan potensi tsunami di Jawa bagian barat. Peneliti LIPI Danny Hilmam Natawidjaya, peneliti ITB Irwan Meilano, dan peneliti Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Imam Suardi.

Apabila gempa dari gesekan megathrust terjadi, tsunami tertinggi berpotensi bisa terjadi di Pandeglang karena merupakan kabupaten paling dekat dengan laut selatan. Masih dalam syarat yang sama, dalam hitungan setengah jam, tsunami diperkirakan akan mencapai daratan Kabupaten Pandeglang.

"Lha ini hasilnya, (menunjukkan paparan daerah yang berpotensi terkena tsunami dalam skenario simulasi-red) ini adalah hasil tsunami dari skenario tadi, ketinggiannya cukup spektakuler. Terutama untuk skenario 5-6. Kemudian yang di bawah lebih tinggi lagi. Ada yang 50 meter dan bahkan mungkin lebih," ujar Widjo dalam pemaparannya.

Kendati demikian, kajian ini justru menjadi polemik. Akhirnya, BPPT meminta maaf atas hasil pemodelan tentang tsunami di Pandeglang, Banten. BPPT menjelaskan pemodelan itu seharusnya untuk konsumsi akademis.

"Masyarakat tidak perlu khawatir dengan pemberitaan ini. Permohonan maaf BPPT kepada masyarakat Indonesia yang terdampak sekiranya hasil studi awal potensi tsunami di Jawa Bagian Barat, yang seharusnya hanya untuk konsumsi akademis ini, telah membuat keresahan masyarakat," tulis BPPT dalam pernyataan tertulisnya.

2. Ancaman Tsunami 20 Meter di Pantai Selatan Jabar

Tim riset ITB juga pernah menyampaikan hasil risetnya soal ancaman tsunami pada 2020. Tsunami diperkirakan terjadi disepanjang pantai selatan Jawa Barat hingga Jawa Timur. Riset ini juga memakai data dari BMKG dan GPS.

Peneliti ITB Sri Widiyantoro menjelaskan tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur, tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa jika terjadi bersamaan.

Berdasarkan permodelan skenario kebencanaan yang dibikin para ilmuwan ITB, tsunami besar itu terjadi bila segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan.

"Seismic gap ini berpotensi sebagai sumber gempa besar (megathrust) pada masa mendatang. Untuk menilai bahaya inundasi, pemodelan tsunami dilakukan berdasarkan beberapa skenario gempa besar di sepanjang segmen megathrust di selatan Pulau Jawa. Skenario terburuk, yaitu jika segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan," kata Sri saat dihubungi detikcom, Kamis (24/9).

Sementara itu, BMKG menegaskan kajian dibuat bukan untuk menimbulkan kecemasan, tapi agar semua pihak waspada dan sebagai upaya penguatan sistem mitigasi bencana.

"Sebagai negara berpotensi rawan bahaya gempa bumi dan tsunami, penelitian/kajian gempa bumi dan tsunami di Indonesia perlu selalu didorong dengan tujuan bukan untuk menimbulkan kecemasan dan kepanikan masyarakat, namun untuk mendukung penguatan sistem mitigasi bencana," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9/2020).

"Sehingga kita dapat mengurangi atau mencegah dampak dari bencana itu, baik jatuhnya korban jiwa maupun kerusakan bangunan dan lingkungan," lanjutnya.

3. Ancaman Sesar Lembang

Ada pula kajian soal ancaman sesar Lembang. Aktivitas Sesar Lembang terakhir kali mengguncang Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, KBB pada 28 Agustus 2011 silam.

Pada peristiwa itu, aktivitas Sesar Lembang bergerak dengan kekuatan 3,3 magnitudo. Namun, meski tidak terlalu besar sedikitnya ada 105 rumah warga di kawasan kampung tersebut mengalami kerusakan.

"Itu terakhir kali terjadi dan sampai saat ini belum ada lagi. Hanya saja kita antisipasi dan waspadai potensi pergerakannya dengan terus sosialisasi dan membentuk rencana kontingensi itu," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Barat Duddy Prabowo, Kamis (28/1/2021).

Sesar Lembang sendiri saat belum menunjukkan adanya aktivitas lagi setelah kurang-lebih 10 tahun terakhir. Dalam rentang waktu 2010 sampai 2011, sedikitnya ada 14 kali gempa.

Namun berdasarkan pemetaan, ada empat kecamatan di wilayah Bandung Barat yang berada tepat di garis Sesar Lembang yakni Lembang, Parongpong, Cisarua, dan Padalarang. "Panjangnya 29 kilometer melintang dari timur ke barat. Ada empat kecamatan yang langsung terlintasi dan itu jadi yang paling terdampak. Kalau gempa maksimal terjadi sampai magnitudo 6,8, semua wilayah di Bandung Raya terutama Cimahi, KBB, dan Kota Bandung bakal terdampak," tutur Duddy.

DPRD KBB meminta Pemkab menggenjot sosialisasi dan edukasi soal Sesar Lembang pada masyarakat. "BPBD KBB harus terus melakukan edukasi pada masyarakat tentang siaga bencana Sesar Lembang dengan mengoptimalkan desa siaga bencana. Harus lebih dimasifkan lagi," ucap Ketua DPRD KBB Rismanto.

4. Ancaman Tsunami di Jawa Timur

BPBD Jatim menyebut 8 kabupaten berpotensi tsunami. Dan ada dua wilayah di Banyuwangi yang berpotensi diterjang tsunami. Seiring dengan rilis BMKG menyebut ada peningkatan aktivitas kegempaan di Jawa Timur. Tsunami di Jawa Timur ini sewaktu-waktu bisa terjadi bila ada gempa bumi dengan kekuatan di atas magnitudo 6,5.

Berdasarkan analisa BMKG, terdapat dua wilayah di Banyuwangi yang berpotensi diterjang tsunami. Yakni Pantai Muncar Kecamatan Muncar dengan ketinggian gelombang antara 4 - 7 meter dan Pantai Pancer di Kecamatan Pesanggaran dengan ketinggian 24 - 27 meter.

Padahal, beberapa wilayah yang ada di sekitar pesisir pantai selatan ada 4 kecamatan yang dinilai rawan. Di antaranya, Kecamatan Pesanggaran, Kecamatan Siliragung, Kecamatan Purwoharjo dan Kecamatan Tegaldlimo. Sementara desa dan kelurahan mencapai 39.

Kasi Pencegahan BPBD Banyuwangi, Yusuf Arif mengaku sudah mendapat informasi potensi bencana tsunami yang dirilis BMKG.

"Yang berbatasan dengan Pantai Selatan ada 4 Kecamatan. Kita sudah mendapatkan info dari BPBD Jatim terkait potensi tsunami," ujarnya kepada detikcom, Kamis (3/6/2021).

Menurutnya, BPBD sudah menyiapkan langkah-langkah kebencanaan mulai dari mitigasi hingga kontijensi, mengantisipasi jika sewaktu-waktu bencana datang.

"Kita tidak bisa mencegah terjadinya bencana. Yang bisa kita lakukan ialah mengurangi risiko dari dampak bencana tersebut melalui mitigasi dan perencanaan kontingensi," kata Yusuf.

Mitigasi bencana, kata Yusuf, dilakukan untuk mengurangi risiko peristiwa atau bencana, seperti pemasangan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS). Termasuk juga penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.

"Kita sering kali menggelar simulasi kebencanaan. Ini dalam rangka agar masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana datang. Kita juga sudah bentuk Desa Tanggap Bencana (Destana) di wilayah-wilayah yang berpotensi terjadi bencana," ungkapnya.

Sampai saat ini, kata Yusuf, sedikitnya sudah ada 6 desa di pesisir pantai selatan Banyuwangi yang sudah terbentuk Desa Tanggap Bencana. Di antaranya Desa Sumberagung, Desa Pesanggaran, Sarongan, Grajagan, Muncar, dan Kedungringin.

Sumber:detik.com