Rusia Ragu Soal Pemangkasan Output, Minyak Mentah Menguat Tipis

Rusia Ragu Soal Pemangkasan Output, Minyak Mentah Menguat Tipis
Ilustrasi Tambang Minyak (iStock)

Jakarta - Harga minyak mentah menguat karena investor mempertimbangkan harapan keputusan Rusia untuk menerima proposal pengurangan produksi OPEC+.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Maret diperdagangkan pada US$50,00 per barel pada pukul 16.44 waktu setempat. setelah mengakhiri sesi di level US$49,94 di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk kontrak April ditutup menguat 0,74 poin ke level US$54,01 per barel di ICE Futures Europe exchange di London, menempatkan harga premium di atas WTI sebesar US$3,84, spread terkecil antara kedua kontrak sejak awal 2018.

Minyak mentah sedikit berubah setelah American Petroleum Institute (API) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 6 juta barel pekan lalu. Laporan API juga menunjukkan pasokan minyak distilasi turun 2,33 juta barel minggu lalu, sementara stok bensin meningkat 1,08 juta barel.

Dilansir Bloomberg, Menteri Energi Alexander Novak mengatakan bahwa Moskow sedang "mempelajari" rencana pengurangan produksi OPEC+ setelah berhari-hari ragu. Novak akan bertemu dengan perusahaan minyak Rusia pada hari Rabu (12/2).

"OPEC + perlu menyeimbangkan produksi dengan lintasan permintaan, yang terlihat rendah," ungkap Frances Hudson, analis tematis global di Aberdeen Standard Investments, seperti dikutip Bloomberg.

OPEC dan sekutu-sekutunya telah mengisyaratkan keinginan untuk menstabilkan pasar minyak yang telah anjlok lebih dari 18 persen sejak awal tahun ketika wabah COVID-19 (nama untuk virus corona baru) menimbulkan gangguan ekonomi yang parah di China.

Dampak dari virus ini telah meningkatkan kekhawatiran lemahnya permintaan minyak mentah yang menghantam ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut, mendorong para ahli teknis dari koalisi untuk mengusulkan pendalaman pemotongan pasokan saat ini sebesar 600.000 barel per hari untuk mengurangi kelebihan persediaan.

Sementara itu, Energy Information Administration memangkas prospek pertumbuhan permintaan minyak bumi global sebesar 23 persen menjadi 1,03 juta barel per hari, mengutip efek parsial dari coronavirus dalam Outlook Energi Jangka Pendek bulanannya.

Dampak pasti dari virus ini sulit dihitung, sehingga para analis mempersempit indikator permintaan lain untuk mendapatkan petunjuk. Morgan Stanley memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak untuk 2020 sebesar 15 persen di tengah turunnya volume transportasi penumpang.