Rekor Kasus Baru Corona Pecah, Jokowi Beri Lampu Merah

Rekor Kasus Baru Corona Pecah, Jokowi Beri Lampu Merah
Presiden Jokowi (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta - Angka penambahan kasus positif penularan virus corona baru (COVID-19) di Tanah Air semakin merangsek naik. Terhitung sejak awal Maret kasus positif COVID-19 diketahui di Indonesia hingga saat ini sudah tercatat 70.736 orang yang tertular virus itu.

"Pada pemeriksaan hari ini kita mendapatkan kasus terkonfirmasi positif sebanyak 2.657 orang sehingga akumulasinya sekarang menjadi 70.736 orang," ujar Achmad Yurianto selaku Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Kamis (9/7/2020).

Penambahan 2.657 orang positif COVID-19 itu merupakan angka tertinggi harian di Indonesia sejauh ini. Yuri--sapaan karib Achmad Yurianto--menyebut tambahan kasus itu didominasi dari Jawa Barat (Jabar) yaitu 962 kasus.

Yuri mengatakan kasus di Jabar itu utamanya dari klaster Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI AD di Bandung. Total keseluruhan klaster Secapa TNI AD itu disebut Yuri 1.262 orang positif COVID-19.

"Penambahan yang cukup banyak untuk Provinsi Jawa Barat ini didapatkan dari klaster yang sudah selesai kita lakukan penyelidikan epidemiologi sejak tanggal 29 kemarin berturut-turut, yaitu klaster di Pusat Pendidikan Calon Perwira TNI Angkatan Darat (AD) yang kita dapatkan kasus positif dari klaster ini sebanyak 1.262 orang," kata Yuri.

"Ini terdiri dari peserta didik dan beberapa tenaga pelatih yang ada di sana. Dari jumlah 1.262 kasus positif yang kita identifikasi, hanya ada 17 orang yang saat ini kita rawat dan kita lakukan isolasi di Rumah Sakit Dustira Cimahi karena ada keluhan meskipun masih dalam derajat keluhan ringan. Di antaranya yang paling banyak dari 17 orang ini adalah demam, dan beberapa di antaranya mengeluh di pernafasannya, baik batuk maupun agak sesak," imbuhnya.

Adanya rekor itu menarik perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia menyebut kondisi saat ini sebagai 'lampu merah lagi'.

"Sebaran COVID di seluruh Tanah Air ini sangat tergantung sekali pada bagaimana daerah mengendalikannya. Dan juga perlu saya ingatkan, ini saya kira sudah lampu merah lagi, hari ini secara nasional kasus positif ini tinggi sekali hari ini, 2.657," ujar Jokowi.

Pernyataan Jokowi itu disampaikannya di tengah kunjungannya ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Jokowi mengingatkan agar penambahan kasus tidak terjadi lagi.

"Tetapi kalau angka yang masih kecil ini tidak dikendalikan baik, manajemen krisis tidak dilakukan, rakyat tidak diajak untuk kerja sama-sama, hati-hati, angka yang tadi saya sampaikan bisa bertambah banyak," kata Jokowi.

Selepasnya Yuri mengaku belum bisa berkata lebih banyak. Dia mengaku tengah menelaah maksud dari ucapan Jokowi.

"Sedang kita pelajari lebih lanjut," kata Yuri secara terpisah.

Secara terpisah Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo memberikan penjelasan. Doni menyebut peringatan Jokowi soal 'lampu merah lagi' itu agar tidak boleh menganggap remeh virus ini.

"Hati-hati. Lebih waspada. Tidak boleh anggap enteng. Tidak boleh lengah. Harus lebih memperhatikan manajemen krisis," kata Doni.

Menurut Doni, Jokowi ingin semua kegiatan yang diperketat dengan protokol kesehatan. Gas dan rem yang kerap disampaikan Jokowi mengenai sektor kesehatan dan ekonomi disebut Doni harus benar-benar dilakukan dengan disiplin dan penuh perhitungan.

"Rem dan gas yang disampaikan Presiden dikendalikan oleh pengemudinya: Kepala Gugus Tugas Daerah di Provinsi, Kabupaten, dan Kota," ucap Doni.

Di sisi lain Juru Bicara Presiden bidang Sosial, Angkie Yudistia, mengatakan bila Jokowi selalu menerima laporan mengenai perkembangan COVID-19. Ke depan segala kebijakan Jokowi disebut Angkie akan selalu berdasar pada pertimbangan-pertimbangan dari laporan yang diterimanya.

"Prinsipnya presiden selalu mendapat laporan dan akan mengambil langkah terukur terhadap berbagai persoalan di masyarakat," ujar Angkie.

Mengenai ucapan 'lampu merah lagi' dari Jokowi, Angkie belum menjelaskan detail. Menurut Angkie, semua kebijakan terkait COVID-19 berada pada Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 sebagai perpanjangan tangan dari Jokowi.

"Kebijakan terkait PSBB atau langkah lain ada di gugus tugas sebagai kepanjangan presiden dalam penanganan COVID-19," imbuhnya.

Sumber:detik.com