Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, 10 Februari 2020

Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, 10 Februari 2020
Foto: detik.com

Jakarta - Potensi koreksi masih membayangi indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Senin (10/2/2020). Walau begitu, ada sentimen positif yang bisa menjaga asa indeks terus mendaki.

Pada perdagangan pekan lalu, 3-7 Februari, indeks menguat 1 persen menyentuh level 5.999,61, memulihkan sebagian pelemahannya yang dialami sepanjang perdagangan pekan yang berakhir pada 31 Januari.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, walau IHSG berhasil menguat, namun pada 2 hari terakhir pekan lalu pola candle mengindikasikan adanya penurunan kekuatan naik indeks.

Menurutnya, dengan masih adanya potensi kekhawatiran terhadap virus corona, IHSG diperkirakan akan kembali terkoreksi dengan support di level 5.969ÔÇö5.911. Adapun, resistance diperkirakan akan berada pada level 6.013ÔÇö6.078.

"Pelaku pasar kami rekomendasikan tetap tenang dan kembali melakukan BOW [pembelian waktu terjadi pelemahan]. Badai Virus korona akan berlalu," katanya melalui riset, dikutip Senin (10/2/2020).

Beberapa importir barang dari China telah mengalami gangguan pasokan akibat liburnya para pekerja. Menurutnya, hal ini akan membuat pasar lebih mencermati perkiraan dampak virus korona terhadap perekonomian China dan global.

Sementara itu, keputusan Bank Sentral China yang mengeluarkan sejumlah stimulus untuk mendorong perekonomian pasar akan menjadi sentimen positif. Stimulus itu meliputi penurunan suku bunga reverse repo dan menggelontorkan 1,7 triliun yuan atau sekitar US$242,74 miliar melalui operasi pasar terbuka.

Bank Sentra China juga menyatakan akan menggelontorkan ratusan miliar dolar ke dalam sistem keuangan pekan ini. Hal ini akan diiringi dengan penurunan suku bunga pinjaman utama serta persyaratan cadangan perbankan (RRR).

Perundingan perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa juga akan menjadi sentimen positif bagi pasar. Namun, proses negosiasi diyakini tidak akan berlangsung dengan cepat dan mudah. Hal ini diperkirakan akan berdampak pada perlambatan ekonomi di kawasan tersebut.

"Negosiasi ini akan cukup sulit menemukan kesepakatan karena proses brexit terkesan dipaksakan dan berlangsung sangat cepat. Konsekuensi yang terjadi adalah peluang perlambatan ekonomi kawasan Eropa dalam beberapa tahun kedepan," katanya.

Hans menuturkan, pekan ini juga akan warnai berita positif dari China yang mengurangi setengah tarif impor AS senilai US$75 miliar. Tarif beberapa barang AS akan dipotong dari 10 persen menjadi 5 persen, dan dari 5 persen menjadi 2,5 persen mulai 14 Februari.