Puluhan Juta Batang Rokok Ilegal Asal Thailand Senilai Rp 10,3 Miliar Diamankan

Puluhan Juta Batang Rokok Ilegal Asal Thailand Senilai Rp 10,3 Miliar DiamankanFoto: Istimewa
Puluhan Juta Batang Rokok Ilegal Asal Thailand Senilai Rp 10,3 Miliar Diamankan

Banda Aceh, Acehbisnis.com - Di tengah merebaknya virus Corona (Covid-19) di Indonesia, Bea Cukai terus berupaya bersinergi untuk menggempur rokok ilegal. Alhasil, penyelundupan 10,2 juta batang rokok ilegal asal Thailand digagalkan.

Penggagalan ini dilakukan oleh Bea Cukai Kanwil Aceh, Bea Cukai Lhokseumawe, Kanwil Kepulauan Riau (Kepri) dan Pangkalan Sarana Operasi Tanjung Balai Karimun (PSO TBK), Minggu (29/3/2020) kemarin di Perairan Tanjung Jambo Aye, Aceh Utara.

Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Aceh, Isnu Irwantoro mengatakan, rokok ilegal yang hendak selundupkan bermerek Luffman yang dikemas dalam 1.020 kardus, dimana per kardusnya berisi 50 slop rokok.

"Total nilai rokok diperkirakan mencapai Rp 10,3 miliar lebih, sedangkan total kerugian negara dari sektor perpajakan mencapai Rp 11,3 miliar lebih," ujarnya Selasa (31/2/2020).

Isnu menjelaskan, penggagalan penyelundupan rokok ini berawal dari informasi masyarakat kepada Bea Cukai Kanwil Aceh tentang adanya upaya pemasukan rokok ilegal asal Thailand melalui perairan Aceh.

Atas informasi ini, Bea Cukai Kanwil Aceh langsung menindaklanjuti dengan meneruskan informasi ini kepada tim kapal patroli laut Bea Cukai BC 30004 yang sedang melakukan patroli laut di perairan pantai timur Aceh.

Minggu sekira pukul 11.00 WIB, tim kapal patroli BC 30004 yang diawaki oleh Bea Cukai Kanwil Kepri dan PSO TBK mendapatkan tambahan informasi ada sebuah kapal yang sedang mengapung di perairan Tanjung Jambo Aye.

"Tim ini melakukan pencarian kapal target. Pukul 15.20 WIB, tim menemukan dan mendekati kapal target di Perairan Tanjung Jambo Aye tepat di titik koordinat 05°-42'-24" U / 97°-32'-48" T," katanya.

Saat kapal patroli telah dekat dengan kapal target, tim memberitahukan kepada awak kapal target melalui pengeras suara agar mematikan mesin.

"Kapal target dengan nama lambung KM Seroja yang berbendera Indonesia ini pun kooperatif dengan mematuhi instruksi dan tidak mencoba untuk melarikan diri dari pemeriksaan," jelasnya.

Petugas lalu memeriksa muatan kapal target beserta awaknya. Saat itulah, ditemukan 1.020 karton berisi rokok polos (tanpa pita cukai) asal Thailand yang disembunyikan di palka depan, buritan dan sekitaran kapal.

KM Seroja yang dinakhodai oleh SDL (53), warga Aceh Timur dan dua anak buah kapal yakni MSL (42), warga Lhokseumawe dan AD (20), warga Aceh Tamiang ini tidak dapat menunjukkan dokumen kepabeanan yang sah.

"Sehingga, tim menarik KM Seroja, muatannya maupun awaknya menuju Pelabuhan Krueng Geukueh, Lhokseumawe untuk diperiksa lebih dalam," ungkapnya.

Saat ini, barang bukti rokok disimpan di gudang Bea Cukai Lhokseumawe, sedangkan KM Seroja disandarkan di Pelabuhan Krueng Geukeuh di bawah pengawasan Bea Cukai Lhokseumawe.

"Ketiga pelaku yang merupakan awak KM. Seroja akan disidik oleh PPNS Bea Cukai Kanwil Aceh, saat ini ketiga pelaku dititipkan di tahanan Direktorat Polairud Polda Aceh," tambahnya.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat Pasal 102 huruf (a) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan dengan ancaman hukuman penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 10 tahun serta denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 5 miliar.

Dengan adanya sanksi hukum ini, diharapkan pelaku usaha maupun masyarakat tidak melakukan tindakan penyelundupan dan/atau membeli, menjual, mengedarkan barang hasil penyelundupan sebagai bentuk partisipasi warga negara untuk berupaya melindungi petani tembakau, meningkatkan daya saing industri rokok dalam negeri dan mendongkrak penerimaan negara dari sektor pajak maupun cukai.

"Hal ini sejalan dengan fungsi Bea Cukai untuk melindungi masyarakat dari penyelundupan dan perdagangan ilegal, memfasilitasi industri dan perdagangan serta mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai sehingga menjadikan Bea Cukai Makin Baik," tutup Isnu.