Polisi Ungkap Sindikat Perdagangan Kulit Harimau Sumatera  

Polisi Ungkap Sindikat Perdagangan Kulit Harimau Sumatera  

Banda Aceh, Acehbisnis.com - Personel Dit Reskrimsus Polda Aceh mengungkap sindikat perdagangan kulit Harimau Sumatera. Dalam kasus kejahatan satwa ini, empat orang tersangka diamankan polisi.

Dir Reskrimsus Polda Aceh, Kombes Pol Margiyanta mengatakan, keempat pelaku ditangkap di depan SPBU Lhok Nibong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, Rabu (17/6/2020) kemarin.

"Berikut disita barang bukti berupa kulit harimau dan sejumlah barang bukti lainya," ujarnya didampingi Kabid Humas, Kombes Pol Ery Apriyono dan Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto dan lainnya dalam konferensi pers di Mapolda Aceh, Senin (22/6/2020). 

Dalam konferensi pers itu, petugas juga menghadirkan empat tersangka beserta barang bukti kulit Harimau Sumatera dewasa dan sejumlah tulang belulang serta gigi taring dan tulang belulang beruang madu.

"Empat pelaku yang ditangkap berinisial MR, A, MD dan S, sementara satu orang lainnya masih buron berinisial M. Mereka merupakan sindikat kejahatan satwa dan semuanya warga Aceh," ungkap Direktur.

Diketahui, para tersangka ini sengaja memasangkan jerat untuk memburu hewan-hewan yang dilindungi tersebut seperti beruang madu dan harimau yang menjadi target utama.

"Modusnya memasang jerat, setelah target buruan terkena jerat para pelaku membiarkannya selama beberapa hari hingga lama-kelamaan satwa itu mati sendiri dan baru diambil, kemudian dikuliti," jelasnya.

Harimau Sumatera yang telah dikuliti itu merupakan hasil tangkapan para tersangka di wilayah hutan Gayo Lues. Kulit harimau tersebut rencananya dijual ke luar Aceh dengan harga yang fantastis. 

"Para pelaku ini menjerat harimau di kawasan hutan Gayo Lues, kemudian kita tangkap di Aceh Timur, mereka sedang menunggu siapa pembeli yang menawarkan harga tertinggi," kata Margiyanta.

"Harga kulit harimau yang akan dijual para pelaku mencapai Rp 100 juta, namun belum ada pembelinya. Dari hasil penyelidikan kulit harimau dan sejumlah tulang-tulangnya itu akan dilewatkan melalui jalur Medan, Sumatera Utara," jelasnya lagi.

Saat ini, para pelaku masih diamankan di Mapolda Aceh dan dijerat dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. 

Sementara itu, Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto menyatakan, harimau merupakan satwa yang dilindungi dan populasinya kini kian menyusut seiring dengan meningkatnya kasus kejahatan satwa dan konflik dengan manusia. 

Dirinya menegaskan, memburu satwa liar yang dilindungi merupakan perbuatan yang melanggar hukum dan dapat dijerat dengan undang-undang pidana. 

"Oleh sebab itu, kita mengajak masyarakat untuk sama-sama melindungi satwa liar seperti harimau, gajah dan lainya, karena populasi ini jika tidak dilindungi maka akan semakin punah," tambah Agus.()

WTP Pemkab Pidie