Opini, Pariwisata Bantu Israel untuk Menjajah Palestina

Opini, Pariwisata Bantu Israel untuk Menjajah Palestina
Wisatawan yang berkunjung ke Bethlehem di Tepi Barat (AP Photo/Mahmoud Illean)

Jakarta, Aceh Bisnis - Israel telah sejak lama menjajah area Palestina. Di balik serangan rudal, ternyata pariwisata turut berkontribusi pada penjajahan yang dialami rakyat Palestina.

Layaknya sebuah mata koin, pariwisata dapat digunakan untuk menyejahterakan masyarakat atau memfasilitasi sebuah bentuk eksploitasi di zaman modern. Dalam kasus konflik Israel dan Palestina misalnya, ternyata pariwisata menjadi alat bagi Israel untuk melanggengkan penjajahan akan Palestina.

Itu dibahas oleh akun @decolonizingtravel, seperti dikutip detikTravel, Kamis (20/5/2021). Mungkin tak banyak traveler yang tahu, kalau kegiatan wisata di Israel turut berkontribusi pada berkurangnya area Palestina dewasa ini.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Decolonizing Travel (@decolonizingtravel)


Yang pertama dari sisi akomodasi, banyak penyedia homestay Israel menuai profit dari menyewakan hotel, restoran, atau mengelola situs bersejarah di teritori Palestina seperti West Bank (Tepi Barat).

Penjajahan area Palestina dengan cara itu cukup berhasil. Bahkan di tahun 2016, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu memberikan subsidi untuk pengadaan akomodasi turis di kawasan Tepi Barat.

Objek wisata Church of the Nativity di Bethlehem, Tepi Barat (AP Photo/Mahmoud Illean)


Itu baru dari sisi akomodasi seperti hotel, homestay, dan restoran. Dari sisi objek wisata, Israel dan Palestina memang selalu menarik banyak wisatawan yang ingin melakukan wisata religi.

Di Bethlehem yang sarat objek wisata religi misalnya, hampir mayoritas hotel, restoran hingga operator turnya dijalankan oleh orang Israel. Menurut Menpar Palestina di tahun 2014, sekitar 90 persen pendapatan dari wisata religi masuk ke kantong pemerintah Israel.

Di tahun 2016, Bank Dunia menginfokan kalau Palestina kehilangan uang sebanyak USD 3,4 milyar per tahun atau setara dengan Rp 48 triliun akibat kontrol yang dilakukan Israel di Area C.

Sejumlah area di Palestina yang dijadikan objek wisata oleh pemerintah Israel, turut mengusir warga setempat dari tanah kelahiran mereka. Pengusiran orang Palestina dari hubungannya dengan objek wisata religi yang ada juga disebut kian dilakukan.

Narasi tentang suatu objek wisata religi dan hubungannya dengan Israel diperkuat, sedangkan hubungannya dengan Palestina kian dihilangkan. Dengan cara itu, orang Palestina kian dicabut dari akar sejarahnya.

Lantas, bagaimana cara bagi traveler untuk membantu perjuangan rakyat Palestina dan menghentikan okupansi Israel? Ada beberapa cara untuk melakukannya.

Pertama, hindari datang ke objek wisata di Palestina yang dikelola oleh orang Israel, seperti Tower of David dan lainnya. Kedua, berhenti membeli produk dari perusahaan Israel yang mendukung penjajahan itu. Contohnya seperti tiket pesawat maskapai Israel, menginap di akomodasi Palestina yang dikelola Israel dan lainnya.

Ketiga, jangan menggunakan jasa operator tur yang menawarkan kegiatan wisata di daerah Palestina. Terakhir, datanglah berwisata ke Palestina secara mandiri atau lewat operator tur yang tidak terhubung dengan pemerintah atau institusi Israel.

Beberapa contohnya seperti Alternative Tourism Group (ATG), Siraj Center, Grassroots Jerusalem, To Be There, Green Olive Tours dan lainnya.

Sumber:detik.com