Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, 24 Maret 2020

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, 24 Maret 2020
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (23/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Jakarta, Acehbisnis.com – Rupiah untuk pertama kalinya menutup perdagangan berada di bawah level Rp16.000 per dolar AS, terendah sejak 1998. Menjaga kepercayaan diri investor asing terhadap pasar Indonesia dinilai menjadi salah satu kunci agar rupiah tidak anjlok lebih dalam.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (23/3/2020) rupiah ditutup di level Rp16.575 per dolar AS, melemah 3,85 persen atau 615 poin. Penurunan rupiah menjadi yang terlemah di antara mata uang Asia lainnya.

Selain itu, penutupan itu pun menjadi level terendah bagi rupiah sejak krisis keuangan 1998, atau dalam 22 tahun terakhir. Level saat ini juga hanya berjarak 75 poin untuk menuju level terendah rupiah sepanjang sejarah.

Secara year to date, rupiah telah terkoreksi hingga 19,58 persen. Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama berada di posisi 102,754, level tertinggi sejak 2016.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa pelemahan rupiah masih disebabkan oleh lesunya minat investor asing untuk mengumpulkan aset-aset berisiko termasuk rupiah.

Kecenderungan investor asing untuk melikuidasi aset dan mengumpulkan lebih banyak dolar AS telah menghantui pasar mata uang, tidak hanya di Asia tetapi juga di seluruh dunia. Kepanikan penjualan tersebut pun, bahkan terjadi untuk aset yang biasanya menjadi safe haven seperti emas.

“Oleh karena itu, menjaga kepercayaan diri investor asing agar tidak panik menjual dolar AS menjadi sangat penting dan keluar dari pasar Indonesia. Harus dipaparkan bahwa pasar Indonesia masih sangat menarik sebagai tempat berinvestasi,” ujar Josua saat dihubungi Bisnis.com, Senin (23/3/2020).

Josua menjelaskan bahwa investor asing harus terus diingatkan berbagai alasan Indonesia merupakan pasar yang menarik seperti rentan suku bunga acuan antara AS dan Indonesia serta yield obligasi Pemerintah AS dan Indonesia yang masih cukup besar.

Komitmen Bank Indonesia untuk terus hadir di pasar pun juga tampak dan seharusnya menambahkan kepercayaan investor asing di pasar dalam negeri.

Belum lagi, kondisi cadangan devisa (cadev) saat ini yang cenderung stabil yang juga harus diperhatikan oleh investor asing. Adapun, per Februari 2020, tercatat hanya turun tipis US$1,3 miliar menjadi hanya US$130,4 miliar.

Langkah pemerintah yang terus berupaya memutus rantai penyebaran virus corona atau COVID-19 juga dapat menjadi sinyal bagi investor asing bahwa Indonesia cukup serius mengurangi risiko dampak penyebaran terhadap ekonomi dalam negeri.

Selama kepercayaan diri dan minat investor asing terhadap aset berisiko tetap rendah, Josua menilai pelemahan rupiah masih akan terjadi dan terbuka lebar untuk penurunan yang tajam.

Sumber:Bisnis.com
IKLAN HUT ACEH BISNIS ABDYA 8
IKLAN HUT ACEH BISNIS ABDYA 7
IKLAN HUT ACEH BISNIS ABDYA 6
HUT ACEH BISNIS BANK ACEH
IKLAN HUT ACEH BISNIS ABDYA 10