Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, 3 Agustus 2020

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, 3 Agustus 2020
Karyawan menunjukan uang rupiah di salah satu kantor cabang BRI Syariah di Jakarta, Rabu (29/7/2020). Bisnis - Abdurachman

Jakarta, Aceh Bisnis – Nilai tukar rupiah diprediksi bergerak terbatas pada bulan ini seiring dengan tarik-menarik katalis positif dan negatif sehingga pergerakan diyakini cenderung mendatar.

Pada akhir perdagangan Kamis (30/7/2020), rupiah ditutup melemah 0,4 persen di posisi Rp14.600 per dolar AS. Walaupun terkoreksi, rupiah secara kumulatif mencetak penguatan 10 poin dibandingakan dengan posisi akhir pekan lalu. 

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa rupiah berpotensi bergerak menguat dalam perdagangan jangka pendek, memanfaatkan momentum tren pelemahan dolar AS akibat tekanan pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam itu.

Departemen Perdagangan AS melaporkan, produk domestik bruto (PDB) AS anjlok 9,5 persen pada kuartal II/2020 bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq). Penurunan kinerja ekonomi negara adidaya itu bahkan mencapai 32,9 persen untuk laju tahunan (year-on-year/yoy).

Realisasi dan proyeksi tekanan turun terhadap ekonomi AS yang lebih dalam membuat greenback tampak loyo melawan mata uang utama bahkan juga kalah di hadapan beberapa mata uang negara berkembang dalam beberapa perdagangan terakhir.

“Seharusnya ini akan memberikan support untuk rupiah menguat karena dolar AS melemah, tetapi harus dilihat lagi karena ada banyak data ekonomi dalam negeri yang penting juga dirilis pada bulan ini sehingga dapat membatasi potensi penguatan itu,” ujar Josua kepada Bisnis, Minggu (2/8/2020)

Inflasi yang diprediksi lebih rendah akan dirilis pada pekan pertama Agustus, dilanjutkan oleh rilis data PDB Indonesia kuartal kedua tahun ini yang juga diprediksi tidak lebih baik daripada kuartal-kuartal sebelumnya.

PDB Indonesia untuk periode kuartal II/2020 diproyeksi berada di kisaran -4 persen hingga -5 persen, dibandingkan dengan pencapaian PDB tiga bulan pertama tahun ini di level 2,7 persen.

Hal itu akan membebani nilai tukar rupiah untuk menguat dan menghambat mata uang Garuda itu bergerak di zona hijau.

Sumber:Bisnis.com