Minyak Mentah Melemah di Tengah Pesimisme Kesepakatan AS-China

Minyak Mentah Melemah di Tengah Pesimisme Kesepakatan AS-China
Suasana kilang minyak Pertamina Refenery Unit IV Cilacap, Rabu (7/2). Produk utama yang dihasilkan kilang Cilacap berupa produk BBM atau gasoline, naphtha, kerosine, avutur, solar LSWR, minyak bakar, LPG, pelumas dasar. (Liputan6.com/JohanTallo)

Jakarta - Minyak turun paling dalam sejak dua pekan terakhir dari level tertinggi delapan pekan, di tengah prospek resolusi perdagangan AS-China yang sudah berjalan lama.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Desember turun 0,67 poin ke level US$57,05 per barel di New York Mercantile Exchange pada akhir perdagangan Senin (18/11/2019).

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Januari melemah 0,86 poin ke level US$62,44 di ICE Futures Europe Exchange yang berbasis di London. Minyak mentah patokan global diperdagangkan dengan premium US$5,30 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, pejabat pemerintah China dilaporkan pesimis terhadap peluang kesepakatan dengan AS. Sementara itu, pemerintah AS mengeluarkan laporan yang memprediksi peningkatan produksi minyak shale bulan depan.

"Pasar tampaknya khawatir tentang pembicaraan perdagangan AS-China," kata Michael Loewen, direktur strategi komoditas di Scotiabank.

"Ada beberapa pesimisme di sekitarnya, terutama karena keengganan Presiden Trump untuk menurunkan tarif untuk barang-barang China," lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, Energy Information Administration memperkirakan produksi minyak mentah utama AS meningkat sebesar 49.000 barel per hari menjadi 9,13 juta pada bulan Desember. Produksi di Permian diperkirakan akan tumbuh 57.000 barel per hari bulan depan.

Minyak mentah belum bergerak di atas batas US$60 per barel sejak pertengahan September di tengah sinyal yang bertentangan mengenai kesepakatan perdagangan AS-China.

Sementara itu, perusahaan eksplorasi minyak milik negara Arab Saudi memangkas target valuasi penjualan saham perdana (IPO) dan mengabaikan rencana untuk memasarkan penawaran di pusat-pusat keuangan internasional utama.

Arab Saudi akan menjual hanya 1,5 persen saham Aramco dan menetapkan target valuasi pada kisaran US$ 1,6 triliun hingga US$1,71 triliun.

Raksasa energi ini membatalkan langkah roadshow IPO di London, yang dijadwalkan pada Rabu, setelah sebelumnya memutuskan untuk tidak melakukan IPO di AS, Kanada, atau Jepang. Kesepakatan sekarang terutama akan bergantung pada keluarga kaya Saudi dan investor lokal lainnya.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak Desember 2019
Tanggal Harga (US$/barel) Perubahan
18/11/2019 57,05 -0,67 poin
15/11/2019 57,72 +0,95 poin
14/11/2019 56,77 -0,35 poin
Pergerakan minyak mentah Brent kontrak Januari 2020
Tanggal Harga (US$/barel) Perubahan
18/11/2019 62,44 -0,86
15/11/2019 63,30 +1,02 poin
14/11/2019 62,28 -0,09 poin

Sumber: Bloomberg

WTP Pemkab Pidie