Mayat-mayat Menumpuk di Ekuador, Wali Kota: Corona Seperti Bom Meledak

Mayat-mayat Menumpuk di Ekuador, Wali Kota: Corona Seperti Bom Meledak
Foto: AP/Luis Perez

Jakarta, Acehbisnis.com - Kota Guayaquil di Ekuador mengalami kondisi mengerikan akibat wabah virus Corona yang melanda negara Amerika Latin itu. Wali Kota Guayaquil bahkan menyebut wabah Corona telah menyerang kota itu "seperti bom".

"Tak ada ruang bagi yang hidup atau mati. Seperti itulah parahnya pandemi ini di Guayaquil," kata Cynthia Viteri yang menjadi wali kota di kota pelabuhan berpenduduk hampir 3 juta jiwa itu.

Rumah sakit, kamar mayat dan rumah-rumah pemakaman kewalahan dengan banyaknya korban COVID-19. Menurut Viteri, jumlah kematian sebenarnya akibat virus Corona bisa jauh lebih besar dari angka resmi nasional sebanyak 369 kematian.

Sejak melanda Ekuador pada 29 Februari lalu, wabah Corona telah menginfeksi 7.600 orang, yang lebih dari 70 persennya tercatat di Guayaquil.

Viteri mengakui kota tersebut tidak siap dengan wabah ini. "Tidak ada yang percaya bahwa apa yang kita lihat di Wuhan, orang-orang yang tergeletak mati di jalan, akan terjadi di sini," tutur wali kota itu seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (15/4/2020).

Otoritas kini memperkirakan jumlah korban jiwa akan mencapai lebih dari 3.500 orang di kota tersebut dalam beberapa bulan mendatang. Menurut Viteri, kota Guayaquil rentan akan virus Corona karena hubungan udaranya dengan Eropa. Terbukti, kasus pertama di Ekuador -- disebut sebagai pasien nol -- adalah seorang wanita Ekuador yang baru tiba dari Spanyol.

"Di sinilah bom meledak, di sinilah pasien nol tiba, dan karena itu adalah waktu liburan, orang-orang bepergian ke luar negeri, beberapa ke Eropa atau Amerika Serikat, dan orang-orang kami yang tinggal di Eropa datang ke sini," ujar Viteri.

Sampai akhirnya ketika kebijakan lockdown (penguncian) diumumkan, semua sudah terlambat. Mayat-mayat menumpuk di rumah-rumah, dan bahkan di jalan-jalan.

"Sistem kesehatan jelas kewalahan," kata wali kota berumur 54 tahun itu seraya menekankan bahwa otoritas Guayaquil "bukan penjahat dunia".

"Kami adalah korban virus yang datang melalui udara" yang menurutnya persis dengan demam kuning yang melanda kota itu setelah datang dari Panama lewat laut pada tahun 1842.

"Bom meledak di sini. Tempat-tempat lain hanya menerima gelombang kejut. Namun kawahnya tetap di sini di Guayaquil," tandasnya.

Sumber:detik.com