Maksiat Menyebabkan Pelakunya Diganggu Makhluk Halus

Maksiat Menyebabkan Pelakunya Diganggu Makhluk Halusoto: Brainchildmag.com/ca
Maksiat Menyebabkan Pelakunya Diganggu Makhluk Halus. Foto: Kesadaran akan hadirnya Allah dalam setiap helaan nafasnya inilah yang menyelamatkan para hamba dari berbuat maksiat.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya yang berjudul Ad-Da' u wa ad- Dawa' (Terapi Penyakit Hati) menuliskan, di antara dampak maksiat adalah berbagai makhluk berani mengganggu pelakunya, termasuk makhluk halus. Padahal sebelumnya mereka takut melakukannya. Syaitan pun berani terhadapnya.

Ia mengganggu, menyesatkan, menimbulkan rasa waswas, menakut-nakuti, membuatnya sedih, serta menjadikannya lupa terhadap perkara-perkara penting. Syaitan berani menghasutnya untuk mendurhakai Allah dengan sungguh-sungguh.

Syaitan-syaitan dari kalangan manusia juga berani terhadap pelaku maksiat. Mereka melakukan gangguan terhadapnya sesuai kemampuan mereka, baik dengan maupun tanpa sepengetahuannya. Di samping itu, istrinya, pembantunya, anak-anaknya, tetangganya, hingga binatang ternak sekalipun berani terhadapnya.

Di antara para Salaf ada yang berkata: "Aku bermaksiat terhadap Allah , kemudian aku merasakan pengaruhnya pada tindak tanduk istri dan hewan tungganganku."

Ditambah lagi, pemerintah berani mengambil tindakan kepadanya dengan menjatuhkan hukuman, jika memang mereka berlaku adil dan menegakkan hukum Allah. Begitu pula dengan jiwanya sendiri, yang menjadi liar dan me-nyulitkannya.

Apabila orang itu ingin berbuat kebaikan, maka jiwa tersebut tidak mau mentaati dan tunduk kepadanya; melainkan justru membimbingnya kepada perkara-perkara yang membinasakannya, baik secara sukarela ataupun terpaksa. Demikianlah.

Ketaatan adalah benteng Allah. Siapa saja yang memasukinya akan merasa aman di dalamnya. Andaikan seseorang meninggalkan benteng tersebut, para perampok dan makhluk lainnya akan berani menyerangnya.

Keberanian pihak lain terhadap pelaku dosa sebesar keberanian orang itu dalam mendurhakai Allah. la tidak lagi mempunyai alat untuk melindungi diri sewaktu keluar dari benteng ketaatan. Sebab, dzikir, ketaatan kepada Allah, sedekah, membimbing orang bodoh, serta amar ma'ruf dan nahi munkar merupakan penjaga seorang hamba, seperti halnya imunitas yang mencegah dan menolak penyakit. Jika imunitas tersebut hilang, maka penyakit pun menang sehingga membinasakannya.

Oleh karena itu, seorang hamba harus memiliki pertahanan diri. Penyebab munculnya keburukan dan kebaikan itu saling ber-lawanan. Kekuasaan menjadi milik pemenangnya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Jika sisi kebaikan menguat, pertahanan juga menguat. Sungguh, Allah membela orang-orang yang beriman. Sementara itu, iman bergantung pada perkataan dan perbuatan seorang hamba. Oleh sebab itu, tingkat pertahanan seseorang tergantung pada kekuatan imannya. Wallaahul musta 'aan.

Sumber:Republika