Kepala Disbuntannak: Teknologi Bioindustri Cocok Dikembangkan di Aceh Tamiang

Kepala Disbuntannak: Teknologi Bioindustri Cocok Dikembangkan di Aceh Tamiang
Kadistanbunnak Aceh Tamiang Yunus menerima pupuk kompos dari pengurus Nacara Farm di lokasi Desa Baro Yaman, Beureunueun, Pidie.(Istimewa)

Banda Aceh, Aceh Bisnis - Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan (Disbuntannak) Aceh Tamiang, Yunus baru baru ini mengunjungi Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Nacara Farm, binaan BPTP Aceh yang memelihara seratusan ternak kambing secara intensif, di desa Baro Yaman di Beureunuen, Kabupaten Pidie.

Dalam kunjungan tersebut Yunus didampingi Ketua Maporina A. Rakhman dan Abdul Azis peneliti/ Liaison Officer BPTP Aceh, yang juga penanggung jawab gerakan pendampingan petani milenial.

Kunjungan tersebut, selain mempelajari manajemen pengelolaan limbah kotoran hewan menjadi pupuk Bokashi dan Biourine (zero waste) serta pakan ternak juga melihat secara langsung teknologi Bioindustri, untuk diadopsi mendukung model pengembangan pertanian organik yang tengah digalakkan di Aceh Tamiang.

Setelah melihat dan diskusi langsung tentang teknologi Bioindustri yang diterapkan, pihaknya sangat tertarik. “Dalam waktu dekat saya akan mengajak kelompoktani dengan swadaya untuk magang, sehingga kami juga bisa mengadopsinya di Aceh Tamiang,"kata Yunus dalam kesempatan itu.

Selain itu, Ia berharap agar Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh hendaknya juga melakukan advokasi serta pembinaan dan pendampingan teknologi Bioindustri. "Diakuinya, di Aceh Tamiang saat ini belum memiliki SDM yang ahli di bidang pakan ternak, sehingga butuh pendampingan teknologidari Badan Litbang Pertanian,"ungkapnya.

Menurut dia, keberhasilan dalam bidang peternakan tergantung ketersediaan dan mutu pakan, namun akibat keterbatasan lahan saat ini, penyediaan pakan melalui hijauan makanan ternak (HMT) tidak tersedia.

Untuk itu, tambah dia, diperlukan teknologi inovatif. Karena kebutuhan akan pakan konsentrat sebenarnya bisa dibuat sendiri, melalui pemanfaatan limbah sawit yang berlimpah yang bisa diolah menjadi nilai tambah dan daya saing.

Apalagi, sebut Yunus, tidak semua daerah memiliki ahli dalam bidang pakan ternak. Oleh karena itu, dengan adanya P4S Nacara Farm, hendaknya petani ataupun penyuluh termasuk milenial dapat memanfaatkan untuk belajar sambil bekerja sehingga nantinya dapat diterapkan di daerah masing-masing.

"Hal ini penting karena selain meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang pakan, juga meningkatnya ekonomi rumah tangga,"papar dia.

Untuk itu, tambah dia, pihaknya berencana akan terjun ke lapangan langusung untuk mengevaluasi kembali kelompoktani yang sudah diberikan bantuan dan mencari solusi serta permasalahannya.

Sejak Covid-19, anggaran yang telah disiapkan untuk kegiatan kegiatan strategis banyak terjadi refocusing sehingga kita tidak bisa banyak berharap dari pemerintah.

Lebih lanjut, Yunus menambahkan, pihaknya juga mengapresiasi P4S Nacara, yang selama ini secara ikhlas memberikan pelatihan tidak saja bagi mahasiswa, petani dan penyuluh tapi ada juga masyarakat umum bahkan beberapa kalangan pejabat.

"Selama ini, permasalahan di lapangan ada sebagian kelompok yang hanya menerima bantuannya saja, namun kurang fokus pada output yang diharapkan. Ditambah lagi, minimnya pembinaan dan pendampingan di lapangan membuat program bantuan itu sia sia belaka,"pungkasnya.()