Ini Peryataan Pedagang Sate yang Diduga Gunakan Daging Busuk

Ini Peryataan Pedagang Sate yang Diduga Gunakan Daging Busuk
Foto: Istimewa

Banda Aceh, Acehbisnis.com - Muspika Kecamatan Baitussalam termasuk Polsek dan Koramil setempat mendatangi sebuah rumah warga yang berada di Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar atas laporan masyarakat tentang adanya penjualan sate yang menggunakan daging diduga busuk, Kamis (4/6/2020) kemarin.

Rumah yang didatangi muspika itu adalah milik MY, seorang pedagang sate keliling. Dimana, petugas menemukan adanya daging yang berbau tak sedap dan diduga busuk serta lingkungan produksinya yang tidak higenis.

Usai melakukan pengecekan tersebut, daging yang diduga busuk itu pun akhirnya dimusnahkan dan dikubur. Karena, menurut keterangan tim kesehatan daging sate tersebut memang sudah tak layak konsumsi.

Si pedagang sate pun diberikan peringatan serta pembinaan untuk tak melakukan hal yang sama kedepan. Ia pun membuat surat pernyataan untuk hal itu. Sanksi ini diberikan, mengingat saat ini keadaan ekonomi masyarakat yang terpuruk karena Covid-19.

Namun, MY membantah ia menggunakan daging busuk sebagai bahan dasar sate itu. Ia mengatakan, bau tak sedap yang ada di kawasan rumahnya berasal dari air limbah rebusan daging yang ditampung di dalam sebuah wadah fiber dan ember di belakang rumahnya.

Dirinya mengaku air limbah rebusan daging tersebut tak dibuang lantaran tidak adanya saluran pembuangan. Sehingga, air limbah itu ditampung hingga tiga hari dan jika penuh akan dibuang ke saluran yang jauh dari pemukiman warga.

MY pun mengatakan, karena terlalu lama tak dibuang, air limbah rebusan daging itulah menimbulkan bau yang tidak sedap.

"Bau busuk itu dari air rebusan daging, jadi kita tampung dulu, tiga hari atau sudah penuh baru dibuang. Lemak ayam yang terangkat di air rebusan itu yang membuat busuk, bukan dagingnya," ujar MY yang ditemui di Pasar Peunayong saat membeli ayam sebagai bahan satenya, Jumat (5/6/2020).

Saat ditanyai tentang air limbah yang tak langsung dibuang, MY mengaku bahwa transportasi untuk mengangkut air limbah itulah juga menjadi kendala, di samping tidak adanya saluran pembuangan di kawasan rumahnya.

"Tidak mungkin kami buang air limbah itu sembarangan, makanya kami tampung dulu. Apalagi gerobak yang kami gunakan saja hampir roboh, jadi kami tunggu hingga ember dan wadah lain penuh baru kami buang sekalian," katanya.

MY menjelaskan, selama delapan tahun berjualan sate, belum ada pelanggannya yang komplain. Sebab, jika sate menggunakan daging yang busuk rasanya pun juga akan tetap berbeda meski diolah sedemikian rupa.

MY pun mengaku salah karena terbatasnya alat dan fasilitas dalam menjalankan usaha satenya yang dinilai belum memiliki kelayakan bersih dari sisi pengolahan. Apalagi, limbah rebusan daging yang menimbulkan bau busuk hanya berjarak lima meter dari belakang rumahnya.

Dirinya juga berterima kasih kepada Muspika Baitussalam dan lainnya yang sudah memberikan peringatan untuk tetap menjaga kebersihan.

Hal yang sama juga diakui oleh salah satu pedagang daging di Pasar Peunayong yang menyebutkan bahwa MY tak pernah membeli daging busuk dan selalu membeli daging segar untuk bahan baku satenya.

"Tiap hari belim daging ayam disini, kita juga tidak pernah jual daging yang busuk," tegas pedagang daging ayam tersebut.()