Harga Minyak Naik Tipis Meski Ada Kekhawatiran Pelemahan Permintaan

Harga Minyak Naik Tipis Meski Ada Kekhawatiran Pelemahan Permintaan
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Jakarta, Aceh Bisnis - Harga minyak mampu bergerak positif meskipun hanya tipis karena harapan permintaan di akhir tahun pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Namun harga minyak masih tetap tertekan kekhawatiran akan aksi lockdown di Eropa.

Mengutip CNBC, Selasa (23/3/2021), harga minyak mentah Brent naik 6 sen atau 0,1 persen menjadi USD 64,59 per barel. Sementara harga minyak AS untuk pengiriman April naik 13 sen menjadi USD 61,55 per barel.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka AS untuk pengiriman Mei yang lebih aktif diperdagangkan, naik 14 sen atau 0,2 persen menjadi USD 61,58 per barel.

Kedua kontrak minyak tersebut turun lebih dari 6 persen pada perdagangan minggu lalu setelah membuat keuntungan selama berbulan-bulan didukung oleh penurunan produksi dan pemulihan permintaan yang diharapkan.

"Harga minyak mengalami minggu terburuk tahun ini karena kekhawatiran atas kasus Covid-19 yang meningkat di seluruh Eropa," kata bank Belanda ING dalam sebuah catatan.

"Ini terjadi saat ada tanda-tanda yang jelas dari kelemahan di pasar fisik minyak." tulis cacatan tersebut.

Pasar fisik berada di bawah tekanan karena penyuling di seluruh dunia, termasuk China dan Amerika Serikat, memulai aktivitas pemeliharaan.

Musim pemeliharaan kilang China akan mencapai puncaknya pada Mei dan mulai meruncing pada Juni, menghilangkan beberapa pembelian minyak mentah seperti dari Afrika Barat.

Hampir sepertiga orang Prancis memasuki penguncian selama sebulan mulai hari Sabtu, sementara Jerman berencana untuk memperpanjang pengunciannya menjadi bulan kelima.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memperingatkan pada hari Senin bahwa gelombang ketiga infeksi Covid-19 yang melanda seluruh Eropa dapat menuju ke Inggris.

“Kampanye vaksinasi belum secepat yang diharapkan pasar dan akibatnya hal ini akan berdampak pada pemulihan permintaan, yang pada gilirannya mengganggu harga minyak,” kata analis pasar minyak di Rystad Energy, Louise Dickson.