Geger 70.000 Ton Gula 'Raib', Kemendag Buka Suara

Geger 70.000 Ton Gula 'Raib', Kemendag Buka Suara
Foto: Esti Widiyana/detik.com

Jakarta, Acehbisnis.com - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey membeberkan salah satu faktor yang dinilainya menyebabkan kelangkaan stok gula di ritel-ritel modern. Menurut Roy, pemerintah sudah menetapkan kesepakatan dengan Aprindo dan Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), sekitar 160.000 ton gula rafinasi dapat dipasok ke gerai-gerai ritel modern.

Namun, Roy mengatakan ketika hendak memperoleh pasokan gula rafinasi tersebut, sekitar 70.000 ton stok gula menghilang. Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Bernardi Dharmawan membantah hal tersebut. Ia menegaskan, sejak awal tak ada kesepakatan agar AGRI memasok 160.000 ton gula untuk Aprindo.

Bernardi menuturkan, stok gula rafinasi saat ini terus diguyur baik ke ritel modern maupun pasar tradisional untuk mengatasi kelangkaan.

Kemudian, dari sisi pemerintah yang menerbitkan penugasan gula rafinasi tersebut juga angkat bicara. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Suhanto mengatakan, memang ada evaluasi dari pihaknya terkait volume gula rafinasi yang akan dipasok AGRI ke Aprindo.

"Jadi pemerintah sesuai dengan rapat bersama memutuskan sudahlah penugasan 160.000 ton itu kita gelontorkan saja ke ritel modern, dan harapannya juga distributor yang memasok ritel modern juga memasok ke pasar tradisional, 2 jalur. Ternyata di dalam perjalanannya, kita kan evaluasi 1 minggu setelah itu, kenapa kok ini belum bergerak? Rupanya packer atau distributor yang menyuplai ke ritel modern pun punya keterbatasan," kata Suhanto kepada detikcom, Jumat (15/5/2020).

Dengan kondisi tersebut, Kemendag pun mempertanyakan kemampuan Aprindo menyerap gula rafinasi dalam 1 bulan. Angka terakhir yang diperoleh, kemampuan dari peritel modern tersebut hanyalah 20.000 ton per bulan.

"Setelah dihitung, kami mendapatkan angka dari Aprindo bahwa ritel modern untuk bulan Mei hanya mampu 20.000 ton," ungkap Suhanto.

Dengan hasil perhitungan kemampuan serap Aprindo, Kemendag pun memutuskan agar AGRI (dan juga Pabrik Gula PT Kebun Tebu Manis) memasok gula rafinasi ke ritel-ritel modern sebanyak 30.000 ton.

"Kami untuk meyakinkan ritel modern, kalau komitmennya hanya 20.000 ton, sudah kita kesepakatan baru dengan para anggota AGRI Anda kita kasih 30.000 ton," jelas dia.

Hal tersebut diputuskan, pasalnya pemerintah tidak ingin ada stok yang berlebih di gudang distributor jika kemampuan serap peritel hanyalah 20.000 ton. Oleh sebab itu, sisa dari 30.000 ton tersebut diarahkan Kemendag untuk dipasok ke pasar tradisional.

"Sisanya kami minta lagi kepada AGRI disalurkan melalui 2 cara, pertama tetap bekerja sama dengan pedagang pasar melalui jaringannya, tetapi langsung ke pedagang pasar. Cara kedua AGRI kerja sama dengan para pengelola dan dinas-dinas seluruh Indonesia melakukan operasi pasar. Jadi bukan berarti Aprindo nggak dipenuhi, tapi nggak mampu untuk menyerap sebanyak itu (160.000 ton)," papar Suhanto.

Ia pun menegaskan, perubahan volume pendistribusian gula rafinasi dari AGRI kepada Aprindo, yang awalnya 160.000 ton menjadi akhirnya 30.000 ton (termasuk dipasok dari Pabrik Gula PT Kebun Tebu Mas), bukanlah mengartikan stok gula tersebut menghilang begitu saja. Namun, pemerintah memang menyesuaikan dengan kemampuan dari peritel modern sendiri.

"Bukan menghilang, ada. Aprindo sendiri nggak akan mampu menjual segitu," pungkas dia.

Persoalan stok gula rafinasi disebut menghilang ini berawal dari pernyataan Roy dalam diskusi pangan yang digelar Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) pada Rabu (14/5) kemarin. Roy menuturkan, melalui rapat dengan Kemendag pada Rabu (22/4) lalu, AGRI telah sepakat memasok 160.000 ton gula rafinasi kepada Aprindo. Gula rafinasi tersebut memang dialihkan fungsinya untuk menjadi gula konsumsi demi memenuhi pasokan dalam negeri.

Namun, menurut Roy 2 hari kemudian AGRI menyatakan stoknya hanya tersisa 93.000 ton. Roy menyatakan kebingungannya dengan mengatakan sekitar 70.000 ton stok gula rafinasi menghilang dalam 2 hari entah ke mana. Terlebih lagi, menurut Roy ketika Aprindo hendak memperoleh keseluruhan stok tersebut, lagi-lagi kesepakatan akhirnya AGRI hanya memasok 30.000 ton gula rafinasi.

Menurut Bernardi, seluruh pernyataan tersebut tidak benar. Kepada detikcom, Bernardi menjabarkan kronologi perubahan dan keberadaan stok gula tersebut:

27 April 2020
AGRI mendata dari 235.000 ton gula rafinasi yang dimiliki anggotanya, ternyata sudah terdistribusi sebanyak 90.000 ton.

28 April 2020
Kemendag menggelar rapat yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto, dan dihadiri oleh Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim) Komisaris Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, Ketua Satgas Pangan Brigjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga, produsen gula (swasta dan BUMN) termasuk AGRI, distributor, dan Aprindo.

Dalam rapat tersebut, ditemukan stok gula rafinasi yang ada di AGRI sebanyak 145.000 ton, dan di Pabrik Gula (PG) KTM 15.000 ton. Dari rapat tersebut dihasilkan kesimpulan ada 160.000 ton gula rafinasi yang belum terdistribusi atau masih ada di gudang AGRI dan KTM.

"Saya sampaikan bahwa angka 145.000 ton itu belum terdistribusi, yang sudah terdistribusi itu 90.000 ton barang yang sudah ke luar dari gudang, dari pabriknya produsen," kata Bernardi ketika dihubungi detikcom, Jumat (15/5/2020).

Namun, dari 145.000 ton tersebut, ternyata sudah ada 52.000 ton gula rafinasi yang sudah dibeli distributor. Hanya saja, gula itu belum ke luar dari pabrik produsen. Sehingga, stok yang tersisa di anggota AGRI hanyalah 93.000 ton.

30 April 2020
Kemendag kembali menggelar rapat dengan AGRI, Aprindo, dan KTM. Saat itu, AGRI menyampaikan stok di gudang-gudang anggotanya hanya tersisa 93.000 ton. Oleh sebab itu, hasil rapat menyetujui komitmen pendistribusian sampai 92.900 ton gula untuk Aprindo.

"Jadi angka yang sudah disepakati dengan Aprindo, dengan yang sudah ditanda tangani MoU pada 30 April adalah kuantitas sampai dengan 92.900 ton," jelas Bernardi.

Sehingga, ia menegaskan sejak awal tidak ada kesepakatan AGRI harus mendistribusi 160.000 ton gula rafinasi untuk Aprindo.

"Ada MoU-nya, ini untuk saya klarifikasi bahwa tidak pernah ada kata-kata 160.000 perjanjian AGRI dengan Aprindo, itu tidak benar," tegas dia.

4 Mei 2020
Pada kesepakatan terakhir, AGRI ditugaskan memasok gula rafinasi ke ritel-ritel modern hanya 25.000 ton, dan KTM 5.000 ton. Angka tersebut disesuaikan dengan penugasan yang diberikan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag).

"Tanggal 4 Mei diubah jadi 30.000 untuk disuplai AGRI dan KTM" tuturnya.

Adapun sisa stok sebanyak 63.000 ton, menurut Bernardi sudah ditugaskan oleh Kemendag agar dipasok ke pasar-pasar tradisional.

"Kita diminta melakukan operasi pasar dan penjualan langsung ke pedagang pasar. Jadi anggota AGRI ini sedang repot-repotnya, karena permintaan pemerintah, kita ikut masuk ke pasar-pasar kemudian kita jual langsung pedagangnya dalam bentuk 1 kg-an. Jadi benar-benar ekstra kerja," terang Bernardi.

Ia menegaskan, stok gula rafinasi yang ada di AGRI dari sejak awal angka yang tersedia adalah 145.000 ton tidak hilang sebutir pun. Terkait perubahan posisi stok memang disebabkan oleh distribusi yang terus dilakukan dalam upaya memenuhi penugasan dari Kemendag.

"Pada prinsipnya kita mengikuti penugasan pemerintah," pungkasnya.

Sebagai informasi, sebelumnya Roy membeberkan kondisi ritel modern yang kesulitan memperoleh pasokan gula. Menurut Roy, pemerintah sudah menetapkan kesepakatan dengan AGRI, agar 160.000 ton gula rafinasi dapat di pasok ke gerai-gerai ritel modern. Namun, Roy mengatakan ketika hendak memperoleh pasokan gula rafinasi tersebut, yang tersisa hanyalah 93.000 ton, atau ada 70.000 ton stok gula yang menghilang.

"Nah prosesnya ternyata, dari 160.000 ton itu ternyata hanya tinggal 93.000 ton. Dalam waktu 2 hari, hilang gulanya hampir sekitar 70.000 tidak tahu ke mana," kata Roy dalam webinar pangan BPKN, Kamis (14/5/2020).

Sumber:detik.com