Dampak Covid-19, Permintaan Kopi di Aceh Turun

Dampak Covid-19, Permintaan Kopi di Aceh Turun

Banda Aceh, Acehbisnis.com - Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh menyatakan, permintaan kopi Gayo oleh negara importir mengalami penurunan dratis, akibat dampak virus corona (Covid-19) yang melanda dunia.

Hal itu disampaikan Kepala BI Perwakilan Aceh, Zainal Arifin Lubis saat melakukan pertemuan dengan DPR Aceh di kantor BI setempat, Jum'at (05/06/2020).

Dalam diskusi itu, membahas sejumlah persoalan ekonomi Aceh, terutama tentang penanganan komoditas kopi di masa pandemi, baik dari sisi hulu (budidaya kopi, produksi), akses pembiayaan/keuangan, maupun sisi hilir (penjualan/pemasaran produk kopi).

Turut hadir dalam kegiatan itu, Ketua DPRA beserta anggotanya, juga hadir sejumlah perwakilan pelaku usaha kopi di Aceh, akademisi, serta penggiat UMKM.

"Turunya permintaan kopi saat ini, harus menjadi perhatian Pemerintah pusat dan Aceh, karena ada 3 kabupaten di Aceh yakni Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues yang berkontribusi sebesar 14,7 persen kopi nasional,"jelas dia.

Apalagi, kata dia, nilai ekonomi kopi di Aceh dapat mencapai Rp1,4 triliun.

"Untuk itu, persoalan kopi perlu dipecahkan dengan pola yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Namun dalam konteks Covid-19, persoalan yang harus diperhatikan bersama adalah pada sisi pemasaran/sisi hilir kopi,"terangnya.

Menurut dia, struktur tata niaga kopi masih banyak dikuasai oleh perusahaan di luar Aceh. Mayoritas usaha di Aceh hanya berperan sebagai agregator yang belum melakukan ekspor secara langsung.

Bahkan, saat memasuki panen raya pada bulan Mei-Juli, komoditas kopi dihadapkan pada kemungkinan penurunan harga yang diakibatkan penurunan drastis permintaan kopi domestik dan ekspor.

"Karena sebagian pengepul kopi lokal juga tidak melakukan pembelian karena kurangnya permintaan akibat kebijakan-kebijakan terkait Covid-19,"paparnya.

Selain itu, tambah dia, koperasi eksportir sejauh ini membatasi pembelian kopi Arabika Gayo oleh karena mayoritas negara tujuan ekspor (USA, Belgia, Kanada dan Jerman) memberlakukan lockdown sehingga coffee shop disana tidak beroperasi yang pada gilirannya menurunkan permintaan.

Sebagai informasi, negara-negara dimaksud memiliki share ekspor masing-masing sebesar USA - 54,9%, Belgia - 15,2%, Kanada - 5,19% dan Jerman - 3,14%.

Untuk itu, salah satu solusi yang direkomendasikan diskusi tersebut adalah mengoptimalisasi Sistem Resi Gudang. Bank pelaksana SRG komoditas kopi adalah BRI Takengon, hingga April 2020 telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp13,3 Miliar kepada sekitar 15 kelompok tani.

Namun, sebut dia, sistem resi gudang ini masih terbentur pada terbatasnya kapasitas gudang yang hanya menampung 700 ton green bean dengan kapasitas optimal 1.200 ton. Jumlah ini hanya mampu menampung sekitar 0,7% dari total produksi kopi Gayo.

"Oleh karena itu, beberapa hal yang perlu diupgrade adalah optimalisasi kapasitas gudang melalui penambahan rak dan memperkuatnya dengan forklift, serta memperbesar plafon pembiayaan SRG untuk komoditas kopi Gayo hingga Rp40 Miliar,"tambah Kepala BI Aceh ini.

Apabila dimungkinkan, perlu dikaji percepatan pembangunan gudang lain agar sistem resi gudang dapat memiliki kapasitas yang cukup untuk menampung produksi kopi yang belum dapat terjual, terlebih mengingat Bank Aceh Syariah juga telah mengantongi izin Bappebti untuk menjalankan sistem resi gudang.

Salah seorang pelaku usaha kopi yang hadir dalam diskusi tersebut menilai persoalan kopi ini diperparah dengan persoalan pengiriman/logistik.

"Biaya pengiriman dari Indonesia ke luar negeri jauh lebih mahal dibandingkan dari luar negeri ke Indonesia. Masalah ini tentu tidak hanya menjadi persoalan pelaku usaha kopi, tetapi juga masalah pelaku usaha ekspor,"ungkap dia.

Selain persoalan logistik, kata dia pihaknya melihat teknologi pengolahan kopi juga menjadi kendala tersendiri.

"Kedua hal ini tentu berpotensi memperlemah daya saing produk lokal di pasar global yang sangat ketat dari sisi harga dan kualitas,"pungkasnya.()

WTP Pemkab Pidie