Bank Dunia: Pandemi Pukul Pertumbuhan Ekonomi Asia

Bank Dunia: Pandemi Pukul Pertumbuhan Ekonomi AsiaFoto: Republika/Putra M. Akbar
Bank Dunia mengatakan pandemi virus corona diperkirakan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju di Asia Timur dan Pasifik.

Washinton, Acehbisnis.com - Bank Dunia mengatakan pandemi virus corona diperkirakan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju di Asia Timur dan Pasifik. Salah satunya pertumbuhan China sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia.

Pada Selasa (31/3) Bank Dunia mengatakan sulit untuk menentukan persisnya pertumbuhan ekonomi masa depan. Terutama karena cepatnya perubahan situasi.

Namun asumsi awal (baseline) pertumbuhan perekonomian negara-negara maju di Asia dan Pasifik pada tahun 2020 akan melambat 2,1 persen dan untuk skenario yang lebih buruk minus 0,5 persen. Jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan tahun 2019 sebesar 5,8 persen.

Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi China yang menjadi titik awal pandemi virus corona melambat 2,3 persen atau minus 0,1 persen di skenario terburuk. Lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2019 sebesar 6,1 persen.

Jika proyeksi ini terwujud maka menjadi performa terburuk Asia Timur dan Pasifik sejak krisis ekonomi tahun 1997 dan 1998. Krisis yang menyebabkan 40 persen negara di seluruh dunia mengalami resesi.

Berdasarkan skenario terburuk Bank Dunia lebih dari 11 juta orang di kawasan tersebut akan jatuh ke jurang kemiskinan. Sangat bertolak belakang dengan prediksi sebelumnya yang menilai pertumbuhan ekonomi dapat mengangkat 35 juta orang dari kemiskinan.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan Bank Dunia akan menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi negara-negara lain di seluruh dunia. Bank Dunia mengatakan mereka belum selesai memprediksi pertumbuhan ekonomi di kawasan lain.

Tapi pekan lalu Direktur International Monetary Fund Kristalina Georgieva mengatakan sudah jelas perekonomian global akan memasuki masa resesi yang dapat sangat buruk. Ia memperkirakan resesi kali ini mungkin lebih buruk dibandingkan krisis finansial tahun 2008.

Sumber:Republika