Arsitektur Masjid Baiturrahman Salah Satu yang Terindah

Arsitektur Masjid Baiturrahman Salah Satu yang TerindahFoto: Republika
Seorang warga berjalan di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Ahad (5/4/2020). Objek wisata religi Masjid Raya Baiturrahman yang juga merupakan salah situs sejarah itu sepi pengunjung pada hari libur dampak dari pandemi Corona Virus (COVID-19)

Di ujung Pulau Sumatera, masjid kokoh nan indah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Siapa sangka, karya dari arsitektur kenamaan Belanda dengan gaya campuran itu menjadikannya sebagai salah satu masjid terindah di dunia.

Renovasi masjid beserta arsitekturnya diawali oleh arsitek Gerrit Bruins pada 9 Oktober 1879 atas perintah Pemerintah Hindia Belanda. Masjid dibangun kembali setelah sempat dibakar akibat pertarungan antara Hindia Belanda dengan masyarakat Aceh.

Gerrit Bruins dari Departemen van Vurgelijke Openbare Werken Batavia tak bekerja sendiri. Perancangan desain juga dibantu oleh seorang letnan dari Cina yang bernama Lie A Sie. Ia berperan sebagai kontraktor dalam pembangunan itu.

Pembangunan kembali masjid diperkirakan menghabiskan dana sekitar 203 ribu gulden. Pembiayaan sebagian besar karena bahan bangunan yang didatangkan dari berbagai daerah. Sebagian materialnya, diketahui adalah marmer dari Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Myanmar dan tiang penyangga dari Surabaya. Selain dari beberapa lainnya yang berasal dari Pulau Penang.

Mengutip Jelajah Ujung Barat Indonesia oleh Muna Sungkar, masjid yang baru dibangun kembali pada awal abad ke-19 itu menganut gaya eklektik. Di mana, merupakan unsur gabungan dari berbagai negara. Khususnya, Eropa dan India (gaya Moghul).

Keberadaan Masjid Raya ini menarik bagi dunia asing. Hal ini dibuktikan pada 2013 lalu. Kala itu, Huffington Post menempatkan Masjid Raya Baiturrahman di urutan ke-44 masjid terindah dari 100 masjid menakjubkan di dunia. Setahun sebelumnya, Yahoo! juga memasukkan masjid yang dibangun ulang Belanda itu, di urutan 10 masjid terindah di dunia.

Gaya Mencolok

Jika menilik lebih jauh, ada ciri yang sangat mencolok dari masjid zaman prakolonial. Pertama adalah bentuknya yang persegi dan dikelilingi oleh dinding, serta atap bertingkat. Atap bertingkat, menunjukkan adanya pengaruh Hindu. Sedangkan, karakter masjid lebih dekat mirip kuil Bali daripada masjid Timur Tengah.

Meski demikian, ada kesamaan dari masjid-masjid tua dahulu, di mana konstruksi awal berbahan dasar pada konstruksi kayu. Meski akhirnya, kini berubah menjadi material beton.

Di Aceh, 50 persen dari bentuk atap masjid masih mempertahankan model atap limas. Sedangkan sisanya, beradaptasi dengan gaya kubah sesuai masjid Raya Baiturrahman di bagian puncaknya.

Mengutip Masjid Bersejarah Aceh dalam Perspektif Spasial Arsitektur, berdasarkan Hikayat Aceh dari laporan utusan Turki, mereka juga menggambarkan masjid Baiturrahman dengan ungkapan yang sangat indah.

‘’Di negara ini, ada masjid yang sangat besar dan sangat tinggi, di mana atap terbuat dari perak berlapis dan memiliki cermin kristal. Banyak orang datang ke sini untuk berdoa. Menurut kami hanya masjid di Mekah yang bisa menampung orang sebanyak mungkin. Masjid-masjid lain di dunia tidak bisa menyaingi yang satu ini. Itu memanjang sejauh mata memandang; mimbar dibuat sebagian dari emas, dan sebagian dari suasa…’’

Seiring waktu, masjid Baiturrahman juga diperluas, utamanya pada 1935. Masjid diperluas dengan tambahan dua kubah pada sisi kiri dan kanan sehingga jumlahnya menjadi tiga kubah.

Tak sampai di situ, setelah Republik Indonesia berdiri, pemerintah Indonesia juga menaruh perhatian besar pada masjid Baiturrahman. Bahkan, pada 31 Oktober 1957 masjid kembali diperluas, kubah ditambah dua buah di bagian belakang. Konstruksi itu selesai pada 1967.

Kini, setelah diperluas sejak awal pembangunan kembali di awal abad ke-19 itu, luas bangunan masjid Baiturrahman menjadi 1.500 meter persegi. Dengan kapasitas orang mencapai 30 ribu orang, selain dari kubah yang berjumlah 7 dan menara 8 buah.

Sumber:Republika