Arab Saudi dan Rusia Gagal Sepakat di OPEC+, Harga Minyak Turun

Arab Saudi dan Rusia Gagal Sepakat di OPEC+, Harga Minyak Turun
Eksplorasi minyak di lepas pantai - Antara

Jakarta, Acehbisnis.com – Harga minyak mentah tergelincir dan melemah di tengah perpecahan antara Arab Saudi dan Rusia tentang pengurangan produksi untuk mengimbangi permintaan yang terpukul akibat wabah penyakit virus corona (Covid-19).

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April 2020 ditutup turun 40 sen ke level US$46,78 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan Rabu (4/3/2020).

Adapun harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2020 berakhir melemah 73 sen ke level US$51,13 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Hari pertama pertemuan Komite Gabungan OPEC+ mencapai puncaknya ketika Menteri Energi Rusia Alexander Novak meninggalkan pertemuan di tengah ketidaksepakatan mengenai ruang lingkup pembatasan produksi minyak yang diusulkan.

Pihak Riyadh mendorong pengurangan pasokan minyak sebesar 1,5 juta barel per hari. Di lain pihak, Moskow lebih memilih mempertahankan produksi pada tingkat saat ini hingga akhir kuartal kedua.

Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan komite tersebut membuat rekomendasi yang baik tetapi menolak untuk memberikan perinciannya.

Selanjutnya, para menteri negara-negara yang tergabung dalam koalisi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan aliansinya (OPEC+) akan membahas rekomendasi itu dalam pertemuan di Wina pada 5-6 Maret waktu setempat.

“Pertemuan OPEC runtuh dan merusak momentum minyak yang telah dibangun,” ujar John Kilduff, mitra di Again Capital LLC, New York. “Pasar akan membutuhkan pengurangan produksi jika menginginkan stabil.”

Wabah virus corona telah memburuk sejak Komite Teknis Bersama OPEC+ pertama kali merekomendasikan pengurangan produksi sebesar 600.000 barel per hari pada Februari.

OPEC dan aliansinya secara luas diharapkan untuk menyetujui pengurangan produksi yang lebih dalam, tetapi tidak jelas apakah upaya ini akan cukup untuk mendorong minyak. Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan permintaan minyak akan menyusut pada 2020.

Sementara itu, penurunan harga minyak pada Rabu dibatasi data pemerintah AS yang menunjukkan stok minyak di Negeri Paman Sam bertambah 784.000 barel pekan lalu, jauh di bawah perkiraan 3 juta barel oleh para analis dalam survei Bloomberg.

Pasar juga mendapat dukungan dari turunnya stok bensin dan minyak diesel yang lebih besar dari perkiraan. Meski demikian, produksi minyak mentah AS mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di 13,1 juta barel per hari, menurut Energy Information Adminsitration (EIA).

Sumber:Bisnis.com
HIMBAUAN FORKAMPIDA ACEH
IKLAN CORONA pemrpov aceh