Anggota DPRA: Budidaya Nilam Solusi Atasi Kemiskinan Aceh

Anggota DPRA: Budidaya Nilam Solusi Atasi Kemiskinan Aceh
Anggota DPR Aceh asal Aceh Tamiang, Nora Idah Nita melihat hasil olahan minyak nilam di kantor ARC Unsyiah, Banda Aceh.(Foto: Dedi Saputra)

Banda Aceh - Potensi budidaya nilam di Aceh sangat menjanjikan dan memiliki prospek baik untuk dikembangkan sebagai solusi mengatasi kemiskinan di Provinsi itu. Apalagi, Nilam aceh termasuk katagori varietas unggul dunia.

Namun, selama ini petani yang melirik usaha bercocok tanam nilam tersebut sangat minim. Padahal, potensinya cukup besar untuk dikembangkan oleh petani karena harganya yang cukup tinggi.

"Saya yakin, tanaman nilam ini mampu meningkatkan ekonomi masyarakat serta mampu menekan angka kemiskinan di Aceh,"kata Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) asal Aceh Tamiang, Nora Idah Nita di Banda Aceh, Senin (03/02/2020).

Turut hadir juga dalam pertemuan tersebut, Kepala Atsiri Research Center (ARC) Unsyiah, Syaifullah Muhammad, Peneliti BPTP Aceh, Basri A Bakar, Abdul Aziz, serta pihak terkaitnya lainnya.

Untuk itu, kata Nora, Pemerintah Aceh harus fokus untuk mengembangkan potensi nilam di Provinsi itu. Karena nilam sangat berpotensi tinggi dalam memajukan ekonomi Aceh kedepan nantinya.

Dikatakannya, nilam aceh memiliki prospek cukup baik kedepan. Karena minyak nilam aceh sudah digunakan sebagai bahan baku untuk membuat parfum di berbagai Negara.

Selama ini, sebut Nora, banyak Negara-negara, termasuk Prancis yang terkenal dengan parfumnya mengambil bahan bakunya (nilam) disini. "Mereka akan menampung berapa pun produksi nilam hasil petani di Aceh".

"Hal ini menjadi potensi besar bagi pemerintah aceh dalam mendorong ekonomi masyarakat, khusus bagi petaninya, jika ekonomi warga meningkat, maka kemiskinan dipastikan akan turun,"ujar Politisi Partai Demokrat tersebut.

"Apalagi, aceh memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan baik sektor perikanan, perkebunan dan pertanian, jika ini dikembangkan dengan baik maka akan berdampak positif untuk kemakmuran rakyat,"terangnya.

Menurut dia, petani di Aceh akan lebih sejahtera jika melakukan budidaya nilam karena memiliki prospek yang cukup baik. Bagaimana tidak harga minyak nilam aceh sekarang mencapai Rp 600.000 per liternya.

Sementara itu, Kepala ARC Unsyiah, Syaifullah Muhammad menyatakan, nilam aceh sudah terkenal di seluruh dunia sejak dulu. Tinggal bagaimana kita mengembangkan sebagai salah satu pendorong ekonomi masyarakat.

"Sebagai produk komoditi lokal yang bernilai ekonomis tinggi, dan sudah dikenal di seluruh dunia, maka sudah sepantasnya kita melestarikannya,"ungkap Muhammad kepada wartawan di Banda Aceh.

Namun, kata dia, produksi nilam aceh saat ini sedang menurun. Hal ini yang harus segera dicari solusinya agar produksinya kembali meningkat.

Apalagi, dari 23 Kabupaten dan Kota di Aceh, ada 17 daerah memiliki potensi besar untuk mengembangkan budidaya nilam. "Ini potensi besar bagi aceh untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat aceh,"papar dia.

"Kami siap mendukung untuk mengali dan mengembangkan potensi budidaya nilam di Aceh,"kata Basri A. Bakar, Peneliti BPTP Aceh itu.

Dalam kunjungan ke ARC-PIU Nilam Aceh Unsyiah dan turun mengunjungi nilam innovation park yang berlokasi di Unsyiah, Nora juga turut didampingi sejumlah peneliti BPTP Aceh, Basri A Bakar dan Abdul Aziz serta Dekan Pertanian Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh, Elvrida Rosa.()