Selama 5 Tahun, 38 Gajah Mati di Aceh

Gajah terluka

Banda Aceh - Banda Aceh - Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Agus Arianto menjelaskan, konflik satwa gajah dengan manusia tidak terlepas habitatnya sudah terganggu.

Habitat gajah semakin berkurang dan telah terfragmentasi dan 85 persen populasinya berada di luar Kawasan konservasi, bahkan sudah berada di luar Kawasan hutan.

Berdasarkan data BKSDA Aceh, konflik gajah di Aceh lima tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada 2015 lalu 39 kali konflik naik pada 2016 menjadi 44 kali. Terus terjadi peningkatan pada 2017 menjadi 103 kasus, meskipun terjadi penurunan pada 2018 hanya 73 kasus. Tetapi kembali meningkat pada 2017 sebanyak 107 kasus.

“Konflik satwa tidak terlepas habitat sudah terganggu,” kata Agus pada kegiatan diskusi tematik tentang konflik satwa gajah dengan manusia di salah satu Warkop di Banda Aceh, Kamis (16/1/2020)

Kegiatan yang bertemakan “Gajah Sumatera Nasibmu Kini” itu, turut dihadiri Kapolres Aceh Jaya yang diwalikili oleh Kasat Reskrim Aceh Jaya Iptu Bima Nugraha Putra, Asosiasi Keuchiek Teunom, Aceh Jaya, akademisi dan sejumlah elemen lainnya.

Dikatakannya, konflik satwa semakin meningkat selama 5 tahun terakhir. Meningkat ini juga ditambah tidak ada strategi khusus penanganan konflik.

Sedangkan data kematian gajah dari 2016 hingga 2020 ada 38 gajah mati. Penyebab kematian gajah 74 persen karena konflik, 14 persen perburuan dan 12 persen mati alami.

“Harapan saya kedepan dapat kita sosialisasikan agar dapat meminimalisir konflik gajah,” jelas Agus.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Aceh Jaya, Iptu Bima Nugraha Putra mengatakan, berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) ditemukan enam titik penemuan bangkai gajah. Di lokasi itu ditemukan ada 4 ekor kerangka kepala gajah yang bisa diidentifikasi berjenis kelamin 2 betina dan 2 jantan.

“Sedangkan satu ekor lagi tak dapat diperkirakan, karena tinggal tulang belulang,” kata Iptu Bima Nugraha Putra.

Dikatakannya, di lokasi ditemukan kawat yang memiliki arus listrik setinggi 1,5 meter. Diperkirakan kawat listrik itu sengaja dipasang untuk gajah, bukan untuk satwa lainnya.

Proses pengungkapan kasus kematian gajah ini, kata dia, penyidik sudah memeriksa sejumlah saksi. Seperti pemilik lahan, kepala desa, warga dan sejumlah saksi lainnya.

“Sedangkan tersangka belum ada sekarang, masih dalam proses penyelidikan,”pungkas Iptu Bima Nugraha Putra.()

Komentar

Loading...