Tensi AS-Iran Mengendur, Harga Emas Turun

Penampakan emas batangan di gerai Butik Emas Antam di Jakarta, Jumat (5/10). Pada perdagangan Kamis 4 Oktober 2018, harga emas Antam berada di posisi Rp 665 ribu per gram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Jakarta – Harga emas terpeleset dari penguatannya dan turun di tengah tanda-tanda de-eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam pernyataannya di Gedung Putih untuk menanggapi serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Irak, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa serangan itu tidak menimbulkan korban dan bahwa pemerintah Iran tampak akan menyudahi aksinya.

Sementara itu, melalui akun Twitter, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan bahwa Iran telah "mengambil langkah-langkah proporsional dalam pembelaan diri" dan tidak berupaya melakukan "eskalasi atau perang".

Baik pernyataan Trump maupun Iran tersebut serta merta meredakan kekhawatiran terjadinya konflik lebih lanjut antara AS dan Iran yang sempat mendorong rally emas sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas untuk kontrak Februari 2020 melemah 0,9 persen ke level US$1.560,20 per troy ounce pada Rabu (8/1/2020) pukul 1.30 siang di bursa Comex New York, mematahkan rangkaian rally 10 hari sebelumnya.

Sebelum tergelincir, emas sempat melonjak menembus level US$1.600 per troy ounce, level tertingginya dalam sekitar enam tahun, setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal ke pangkalan udara AS-Irak pada Rabu (8/1/2020) pagi waktu Baghdad.

Serangan itu dilancarkan sebagai pembalasan atas tewasnya Jenderal Iran Qasem Soleimani akibat serangan udara AS di Irak pada 3 Januari yang menewaskan Jenderal Iran Qasem Soleimani.

Tensi antara AS dan Iran sendiri telah berkobar sejak AS kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran atas program nuklirnya pada tahun lalu.

“Penurunan emas merupakan reaksi terhadap serangan Iran yang kini tampak jelas menjadi de-eskalasi, dan pihak Trump sepertinya menangkap hal itu,” terang Tai Wong, kepala perdagangan derivatif logam di BMO Capital Markets.

Sepanjang 2019, harga emas di pasar spot mencatat prestasi dengan kenaikan sekitar 18 persen, kenaikan tahunan terbesar sejak 2010.

Kebijakan moneter yang lebih longgar oleh bank-bank sentral dan melambatnya pertumbuhan global adalah beberapa di antara faktor pendorong emas sepanjang 2019.

Minat investor untuk aset investasi aman (safe haven) ini semakin terangkat pascakematian Soleimani dan kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.

"Emas pada dasarnya bereaksi atas lingkungan yang menghindari risiko,” tutur Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities. “Tidak korban dari pihak AS [akibat serangan Iran], dan presiden [Trump] menegaskan akan membalas jika terdapat korban di pihak AS.”

Komentar

Loading...