Investor Resah Pembalasan Iran, Wall Street Kembali Tertekan

Karyawati bearktivitas di samping papan penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (27/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Jakarta – Tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat kembali tertekan di zona merah pada perdagangan Selasa (7/1/2020), di tengah bangkitnya kekhawatiran tentang eskalasi tensi AS-Iran.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 berakhir terkoreksi 0,28 persen di level 3.237,18, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,42 persen ke posisi 28.583,68, dan indeks Nasdaq Composite ditutup turun tipis 0,03 persen di level 9.068,58.

Indeks S&P 500 mencatat penurunan untuk kedua kalinya dalam tiga sesi perdagangan terakhir pascaserangan udara AS di Irak yang menewaskan Jenderal Iran Qasem Soleimani pada Jumat (3/1/2020).

Padahal, pada perdagangan Senin (6/1/2020), Wall Street mampu menghimpun kekuatannya dan rebound ke zona hijau seiring dengan meredanya kekhawatiran soal situasi di Timur Tengah.

Namun pada Selasa (7/1), kantor berita Iran Fars mengabarkan bahwa Negara Republik Islami ini tengah mencermati skenario merespons serangan AS yang menyebabkan kematian Soleimani

Mengutip perkataan kepala dewan keamanan nasional Iran, Fars mengabarkan bahwa Iran tengah mencermati 13 skenario potensial untuk pembalasan atas pembunuhan Soleimani, dilansir dari Bloomberg.

“Pasar sedikit banyak tampak lebih tenang dari segala pemberitaan [tentang konflik AS-Iran] yang telah kita dengar selama beberapa hari terakhir,” ujar Matt Forester, kepala investasi di BNY Mellon's Lockwood Advisors.

“Masalahnya adalah apakah akan ada konflik yang meningkat di masa depan. Saya pikir pasar belum mengetahuinya. Konflik ini bisa dengan mudah kembali menyulut,” tambahnya.

Meski investor memulai perdagangan pekan pertama tahun 2020 dengan suasana optimistis, krisis di Timur Tengah, yang telah memicu aksi jual meluas pada Jumat (3/1/2020), kembali dirasakan pada Selasa (7/1/2020).

Pelaku pasar saat ini tengah menantikan bagaimana Iran mewujudkan ancamannya.

Komentar

Loading...