Harga Emas Stabil Usai Data Manufaktur AS Melemah

Dummy emas batangan terlihat saat pameran di Jakarta, Jumat (23/8/2019). Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau emas Antam turun Rp 4.000 menjadi Rp 751 ribu per gram, pada perdagangan Jumat (23/8/2019). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Jakarta - Harga emas stabil pada perdagangan Senin setelah sebelumnya mampu menguat karena data manufaktur Amerika Serikat (AS) menurun. Data ekonomi yang tak bagus tersebut memicu kehawatiran perlambatan ekonomi.

Sedangkan harga paladium mengalami lonjakan hingga di atas level USD 1.860 per ounce dan mencetak level tertinggi karena krisis pasokan.

Mengutip CNBC, Selasa (3/12/2019), harga emas di pasar spot sedikit berubah ke level USD 1.464 per ounce. Sedangkan harga emas di pasar berjangka AS ditutup turun tipis 0,3 persen ke level USD 1.469,2 per ounce.

Harga emas pada awalnya jatuh ke level terendah di USD 1.453,60 per ounce karena dolar AS mengalami penguatan yang cukup tinggi. Harga emas jatuh karena tekanan dolar AS.

Namun kemudian indeks saham AS atau wall street tertekan dan dolar AS tergelincir karena data manufaktur yaitu tepatnya data pengeluaran konstruksi dan investasi pada proyek-proyek swasta jatuh ke level terendah dalam tiga tahun.

"Pasar mulai melihat ada risiko, tetapi belum bisa melihat apa yang akan terjadi. Tapi dari arahnya, saham dan dolar tertekan sehingga sedikit membantu harga emas," jelas analis komoditas TD Securities, Ryan McKay.

Pasar saham di awal pekan mengalami penguatan karena survei bisnis swasta menunjukan bahwa aktivitas pabrik China berkembang dengan kecepatan tertinggi dalam tiga tahun. Namun pasar saham berbalik arah menyusul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia akan segera mengembalikan tarif impor baja dan aluminium AS dari Brasil dan Argentina.

Investor menyukai emas di saat sedang dalam ketidakpastian global. Dampak dari hal tersebut maka harga emas merangkak naik.

Komentar

Loading...