Asal Mula NasDem di Pusaran Isu Cari Muka ke Jokowi

Foto: Presiden Jokowi di HUT ke-8 NasDem. (Andhika-detikcom)

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) ambil menyatakan menolak tegas terkait wacana masa jabatan presiden hingga 3 periode. Jokowi mengatakan ada tiga kemungkinan wacana tersebut dilontarkan ke publik: menampar mukanya, mencari muka kepadanya, dan ingin menjerumuskannya.

Partai NasDem terseret dalam isu mencari muka ke Jokowi. Sebelum Jokowi angkat bicara, wacana masa jabatan presiden hingga 3 periode sudah menjadi polemik.

Diketahui, wacana masa jabatan presiden 3 periode mencuat di sela rencana amandemen UUD 1945. Awalnya, Wakil Ketua MPR Arsul Sani mengungkapkan ada usulan perubahan terkait masa jabatan presiden satu periode saja atau bahkan tiga periode masa jabatan.

Saat itu, Arsul meminta agar usulan perubahan masa jabatan itu tidak disikapi berlebihan. Menurut Arsul, usulan-usulan itu baru sebatas wacana. Arsul juga menjelaskan soal usulan satu kali masa jabatan presiden. Dia kemudian juga menyebut NasDem-lah yang pertama kali memunculkan wacana presiden bisa 3 periode.

"Hanya kalau yang sekarang itu dua kalinya dua kali saklek gitu kan. Artinya kalau dulu 'dapat dipilih kembali' itu kan maknanya dua kali juga sebelum ini. Tapi kan terus-terusan, kalau ini kan hanya dapat dipilih satu kali masa jabatan lagi. Kemudian ada yang diusulkan menjadi tiga kali (masa jabatan)," kata Arsul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

"Ini kan bukan saya yang melayangkan. Ini ada yang menyampaikan seperti ini, kalau tak salah mulai dari anggota DPR dari Fraksi NasDem," kata Arsul. Arsul menjawab pertanyaan soal urgensi perubahan masa jabatan presiden.

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) juga pernah bicara peta politik di MPR terkait rencana amandemen UUD 1945. Hidayat menyebut setidaknya ada enam atau tujuh yang menolak apabila amandemen UUD mengubah pasal tentang masa jabatan dan pemilihan presiden.

Hidayat menyebut Fraksi NasDem mendorong agar amandemen UUD juga membahas masa jabatan presiden tiga periode. Sedangkan PKB mendorong perihal pemilihan presiden (Pilpres) dipilih kembali oleh MPR. Namun menurutnya, belum ada fraksi yang secara resmi mengusulkan dua wacana tersebut.

"Untuk masa jabatan 3 periode itu yang paling mendorong NasDem. Untuk pemilihan melalui MPR itu PKB. Tapi, selain itu kan kita tidak dengar. Untuk Golkar, pernyataannya masih beragam kita lihat. Tapi yang jelas secara formal belum ada satupun partai yang usulkan sekarang," terang Hidayat di kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (29/11).

Amandemen UUD 1945 adalah rekomendasi MPR periode 2014-2019. Namun, rekomendasi tersebut hanya sebatas soal Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

NasDem memang menginginkan amandemen UUD 1945 bersifat menyeluruh. Hal tersebut merupakan kesepakatan antara Ketua Umum NasDem Surya Paloh dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Sekretaris F-NasDem DPR Saan Mustopa pun memberikan penjelasan terkait wacana amandemen menyeluruh terhadap UUD 1945. Amandemen yang diusulkan NasDem, selain soal GBHN, terkait dengan pemisahan pemilu legislatif dan pemilihan presiden.

Menurut Saan, gagasan soal amandemen menyeluruh mungkin saja terkait dengan masa jabatan presiden. Namun, Wakil Ketua Komisi II itu menyebut gagasan soal masa jabatan presiden itu tidak spesifik.

"Jadi nggak ada secara spesifik kita bicara soal-soal yang lain, misalnya (jabatan presiden) tiga periode, belum. Tapi kita akan melihat soal gagasan amandemen konstitusi itu kita lemparkan dulu ke publik. Abis diinikan (dilempar ke publik), baru kita nanti simpulkan," kata Saan saat dimintai konfirmasi, Jumat (22/11).

Jokowi Tolak Pembahasan Amandemen 1945 Melebar

residen Joko Widodo (Jokowi) mengatakan dirinya setuju bila dilakukan amandemen UUD 1945 terbatas yakni soal haluan negara. Dia meminta amandemen UUD 1945 tidak melebar.

"Sejak awal sudah saya sampaikan bahwa saya produk pemilihan langsung. Saat itu waktu ada keinginan amandemen, apa jawaban saya? Untuk urusan haluan negara, jangan melebar ke mana-mana," kata Jokowi kepada wartawan di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (2/12/2019).

"Kenyataannya seperti itu kan. Presiden dipilih MPR, presiden 3 periode, presiden satu kali 8 tahun. Seperti yang saya sampaikan. Jadi, lebih baik tidak usah amendemen," sambungnya.

Daripada amandemen UUD 1945 melebar, Jokowi meminta lebih baik berfokus ke tekanan-tekanan eksternal. Jokowi tak langsung menunjuk hidung pihak yang dia maksud, namun dia menyebut ada yang ingin mencari muka hingga menjerumuskannya.

"Ada yang ngomong presiden dipilih 3 periode, itu ada 3. Ingin menampar muka saya, ingin cari muka, padahal saya punya muka. Ketiga ingin menjerumuskan. Itu saja, sudah saya sampaikan," ucap Jokowi.

NasDem menegaskan wacana jabatan presiden 3 periode tersebut bukan datang dari partainya. NasDem menilai periode ini jadi waktu terbaik untuk membuka wacana amandemen. Sementara bagi NasDem, saat ini juga jadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi implementasi dari amandemen terakhir.

"Usulan bukan datang dari NasDem. Pak Surya (Ketum NasDem Surya Paloh) saat ditanya bagaimana dengan adanya wacana masa jabatan presiden 3 periode, jawabnya intinya kita serahkan kepada rakyat, kalau rakyat menghendaki bagaimana NasDem bisa menolak. Jadi bukan NasDem yang mengusulkan," kata Ketua DPP NasDem, Taufik Basari kepada wartawan, Senin (2/12).

Politikus NasDem lainnya, meminta Jokowi tak terbawa perasaan (baper) dalam menanggapi wacana jabatan presiden 3 periode. NasDem menegaskan wacana itu tak terkait dengan pribadi Jokowi. Willy mengatakan wacana tersebut merupakan aspirasi publik. Dia membantah wacana tersebut muncul untuk mencari muka kepada Jokowi.

"Bukan cari muka. Buat apa parpol cari muka sama Pak Jokowi? Nggak. Bukan itu konteksnya. Konteksnya adalah mendiskusikan itu. Mengkaji itu sebagai sebuah diskusi wajar saja. Bukan politik, ide ini lantas disalahkan, jangan dicurigai. Justru itu respons. Pak Jokowi. Kan ini bukan ke pribadi Pak Jokowi," kata Ketua DPP NasDem Willy Aditya di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/12).

Komentar

Loading...