AS-China Buat Kesepakatan, Brent dan WTI Kompak Menguat

liputan6Harga minyak Brent yang merupakan patokan harga dunia naik 66 sen atau 1,4 persen dan berakhir di level US$ 47,31 per barel.

Jakarta – Harga minyak mentah menguat ketika China dan AS membuat kemajuan dalam menyelesaikan sengketa perdagangan yang merusak permintaan bahan bakar.

WTI untuk pengiriman Desember menguat 0,80 poin ke level US$57,15 per barel di New York Mercantile Exchange pada akhir perdagangan Kamis (7/11/2019). Sebelumnya, WTI menyentuh US$57,88, harga intraday tertinggi sejak 24 September.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Januari menguat 0,55 poin ke level US$62,29 di ICE Futures Europe Exchange. Minyak mentah patokan global diperdagangkan pada premium US$5,14 dibandingkan WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, juru runding China dan AS sepakat untuk menurunkan tarif secara bertahap. Bursa saham AS mencapai rekor tertinggi pada hari sebelumnya, menambah tanda-tanda bahwa penurunan pertumbuhan global mungkin telah mencapai titik terendah.

“Kenaikan minyak dan pasar saham terkait dengan berita perdagangan yang baik dan optimisme ekonomi seharusnya menjaga harga tetap kuat,” kata Tom Finlon, direktur Energy Analytics Group Ltd, seperti dikutip Bloomberg.

Namun, harga masih lebih rendah 14 persen dari level puncak yang dicapai pada bulan April di tengah kekhawatiran bahwa pertumbuhan konsumsi yang lemah dan rekor produksi minyak shale AS akan menciptakan surplus baru tahun depan.

Sementara itu, persediaan minyak mentah AS melonjak 7,9 juta barel pekan lalu, hampir empat kali lebih banyak dari perkiraan analis.

"Kami melihat rebound pasar minyak hari ini setelah berita perdagangan yang positif," kata Jens Naervig Pedersen, analis senior di Danske Bank A/S di Kopenhagen.

"Pasar minyak berada dalam keadaan yang lebih baik daripada dua minggu yang lalu, tetapi kita masih berada dalam lingkungan yang rapuh, meskipun tidak akan secara signifikan bergerak ke arah negatif," lanjutnya.

Komentar

Loading...