Lahan Suboptimal Dapat Diolah Menjadi Produktif

Lahan Suboptimal Dapat Diolah Menjadi Produktif. Foto: Ist

Banda Aceh - Lahan suboptimal yg saat ini masih cukup luas di Aceh dapat diolah dengan penerapan teknologi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk komoditi yang cocok, termasuk penanaman kacang tanah di lahan bertekstur pasir. Untuk pengembangan kacang tanah di lahan suboptimal diperlukan ketepatan dalam pemilihan dan penerapan teknologi budidaya yang spesifik lokasi sehingga diperoleh hasil yang optimal.

Hal itu disampaikan Penanggung Jawab UPBS BPTP Aceh Basri A. Bakar saat meninjau demplot pemanfaatan kompos bioaktivator pada tanaman kacang tanah di lahan kering berpasir bantaran Krueng Aceh, Lamnyong yang ikut dihadiri peneliti, dosen FP Unsyiah Yadi Jufri dan Kasdim 0101/BS Letkol Catur Adisiswoyo, S.IP serta masyarakat pecinta organik, Senin (4/11/19).

Pemerintah saat ini, kata Basri telah mengeluarkan rekomendasi untuk pemanfaatan lahan secara maksimal baik lahan marginal maupun yang terlantar, melalui introduksi teknologi spesifik dengan mengikuti kondisi dan tipologi lahan.

Ia menyebutkan, keberhasilan dalam pengembangan kacang tanah dipengaruhi oleh pengelolaan air, penataan lahan, pemilihan varietas yang adaptif yang toleran terhadap keasaman atau salinitas tanah yang tinggi. “Pemberian pupuk organik dalam tanah merupakan salah satu upaya untuk menerapkan pertanian berkelanjutan dan berwawasan lingkungan”, katanya.

Menurutnya, demplot pemanfaatan kompos bioaktivator pada kacang tanah lokal seluas 2000 meter merupakan riset mandiri kerjasama BPTP Aceh dan mahasiswa Praktek FP Unaya. “Jika hasil percobaan ini bagus, maka ke depan dapat dikembangkan secara meluas dengan menggunakan komoditas unggulan Badan Litbang Pertanian”, ungkapnya.

Admansyah selaku praktisi organik menjelaskan dalam percobaan praktek mahasiswa tersebut, untuk aplikasi kompos bioaktivator dilakukan dengan membuat setiap bedeng tanam selebar 120 cm. Selanjutnya perlu dibuat lubang media tanam selebar 25 cm. Jarak titik antara tanaman cukup 20 cm saja, pada saat tujuh hari sebelum tanam benih kacang, diisi formula biokimia organik sebanyak satu kilogram per lubang dan diaduk degan pasir secukupnya sesuai kebutuhan lubang tanam.

Sedangkan formula biokimia organik fase vegetative 25 kg bio activator dicampur 50 kg kotoran hewan (kohe) ayam, dan 125 kg kohe sapi, diaduk rata, sampai berwarna coklat dan terasa dingin. Untuk perawatan tanaman fase vegetative, lakukan pengecoran larutan biokimia organik (satu kilogram pupuk biokimia diaduk degan lima liter air) selanjutnya dicor 300 ml untuk per batangnya. Untuk musim hujan dilakukan semingu sekali, dan 2 kali seminggu saat musim kemarau.

Selanjutnya perawatan tanaman fase generative , dilakukan dengan cara membuat formula larutan pembuatan (satu kilogram bio activator diaduk lima kilogram kohe kambing yang mengandung urine, lalu diaduk degan air 20 liter). Cara mengaplikasikannya dengan satu liter air larutan biokimia diaduk dengan air lima liter lalu dicor per batang dua kali setiap minggunya.

"Aplikasi tersebut sudah kami lakukan pada beberapa demplot untuk tanaman Padi, dan terbukti efektif dan menghasilkan 8,5 ton GKP/ha", ujarnya optimis.

Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan membina kelompok petani milenial (Lambadeuk Farm) untuk menanam jagung seluas satu hektar pada lahan berpasir. Kedepan dengan adanya program kerjasama ini, diharapkan dapat mengurangi angka pengangguran di Aceh.

Sementara itu Kasdim 0101/BS, Letkol Catur Adisiswoyo, S.IP setelah meninjau dan mengamati langsung tanaman kacang tanah yang tumbuh dengan baik, ia juga akan menggunakan kompos bioaktivator pada lahannya untuk komoditi jagung. Ia berharap agar jajarannya serta mahasiswa fakultas pertanian yang ada di Banda Aceh turut serta dalam mewujudkan pembangunan pertanian dengan pupuk kompos organik yang ramah lingkungan.(ril)

Komentar

Loading...