‘Resesi’ Seks di AS & Jepang, Apa Hubungannya dengan Ekonomi?

Foto: Bendera Jepang Terlihat di Atas Bank of Japan di Tokyo, Jepang pada 21 September 2016 (REUTERS/Toru Hanai)

Jakarta - Penurunan gairah seksual terjadi di Amerika Serikat (AS). Hasil penelitian dari analis politik dan ekonomi Jake Novak menemukan bahwa menurunnya selera kaum milenial di Negeri Paman Sam dalam melakukan hubungan seks alias 'resesi seks' bisa membuat ekonomi negara itu mengalami perlambatan.

Ini dikarenakan 'resesi seks' dan menurunnya pernikahan mengindikasikan bahwa kaum milenial juga akan menunda aspek-aspek kedewasaan lainnya seperti membeli rumah atau mobil, yang mana akan menyumbang perlambatan. Dalam ekonomi, resesi berarti kontraksi pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal beruntun.

Dalam analisisnya, pendiri Jake Novak News ini menyebutkan bahwa sejumlah penelitian baru-baru ini mengungkapkan turunnya gairah seksual dan perkawinan di AS disebabkan karena adanya teknologi dan peluang baru yang diberikan oleh teknologi yang memicu orang dewasa muda lebih senang menyendiri ketimbang berhubungan dengan manusia lainnya secara langsung.

"Semuanya, mulai dari pornografi online hingga video game canggih, hingga media sosial digunakan oleh banyak remaja sebagai pengganti kontak dengan manusia nyata, terutama untuk pria," tulis Novak, dalam penelitian itu.

"Lebih sedikit orang yang menjalin relasi hubungan dewasa akan mengarah pada penurunan keduanya [seks dan ekonomi], dan Anda tidak perlu menjadi jenius ekonomi untuk mengetahui bahwa berkurangnya jumlah pernikahan dan anak-anak akan dapat melemahkan permintaan ekonomi secara keseluruhan," kata mantan produser CNBC TV ini.

Namun, ternyata AS bukan satu-satunya negara yang mengalami resesi seks. Sebuah negara maju di Asia Timur, yaitu Jepang, telah lebih dulu mengalami resesi seks, seperti dilaporkan oleh CBS News yang dikutip the Rolling Stone.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa CBS News membahas hasil Survei Kesuburan Nasional Jepang, yang menemukan bahwa satu dari 10 pria berusia 30-an di negara itu ternyata belum pernah berhubungan seks sebelumnya.

Para ahli yang disurvei dalam penelitian itu menyebut tingginya tingkat keperawanan itu disebabkan berbagai faktor, mulai dari meningkatnya ketidakstabilan keuangan nasional hingga munculnya aplikasi digital yang membuat orang lebih senang menjalin pertemanan secara digital.

"Sebagian besar dari orang-orang ini tidak dapat menemukan pasangan di pasar," kata Peter Ueda, seorang peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Tokyo, kepada CBS News.

Selain itu, penyebab resesi seks ini juga dipengaruhi tingginya jam kerja di negara ini, serta masalah keuangan.

Namun, apapun penyebabnya, keadaan ini telah membuat khawatir Jepang. Sebab, peneliti kesehatan masyarakat dan pakar demografi di negara itu menyebut hal ini dapat berdampak pada penurunan jumlah populasi di Negeri Sakura.

Apalagi saat ini tingkat kesuburan Jepang sudah sangat rendah. Akibat dua hal itu, populasi Jepang dapat berkurang setengahnya jika tren berlanjut selama 100 tahun ke depan, kata mereka.

Menurunnya jumlah kelahiran di Jepang pun telah berdampak pada ketidakseimbangan yang tumbuh antara penduduk usia muda dan tua, yang akhirnya menjurus pada langkanya tenaga kerja muda di negara ini. Seperti halnya yang terjadi di sektor manufaktur.

Menurut sebuah survei pemerintah, yang dikutip Asia Nikkei, tenaga kerja manufaktur Jepang telah menyusut 9% dari 11,7 juta menjadi 10,6 juta antara 2008 hingga 2018.

Sementara jumlah pekerja di atas usia 65 tahun dalam sektor manufaktur telah naik dari 6,5% pada 2008 menjadi 8,9% pada 2018. Sementara itu, jumlah kelompok pekerja usia kurang dari 35 turun 29% menjadi 25,1% pada kurun waktu yang sama.

Hal ini pun berdampak pada semakin panjangnya waktu pensiun seorang pekerja di Jepang. Saat ini 79,3% dari perusahaan dan 88,7% dari produsen di negara itu menetapkan batas pensiun di usia 60 tahun, menurut survei Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan tahun 2017.

Namun, sistem pensiun terbaru yang dinamakan Stabilisasi Ketenagakerjaan Orang Lanjut Usia, memungkinkan pekerja untuk memperpanjang masa pensiun hingga usia 65 tahun. Sayangnya, hal ini justru memiliki dampak buruk pada pekerja-pekerja itu, yang mana gaji mereka seringnya dipotong sebesar 20% hingga 40% setelah memperpanjang masa kerja.

Rendahnya jumlah populasi di Jepang juga telah membuat tingkat pekerja asing di negara ini meningkat ke level rekor baru.

Seperti dilaporkan World Financial Review, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah membuka peluang yang lebih besar bagi lebih banyak pekerja asing untuk masuk ke Jepang. Abe menargetkan untuk membawa 300.000-an orang untuk mengisi berbagai posisi kerja pada tahun 2025 di Jepang.

Para pekerja asing ini akan diizinkan untuk tinggal di Jepang selama lima tahun di bawah kerangka kerja yang hanya mencakup lima industri, yaitu pertanian, konstruksi, penginapan, keperawatan dan pembuatan kapal.

Abe juga mengusulkan undang-undang untuk mendorong perusahaan menghapuskan usia pensiun dan mengembangkan langkah-langkah dan kebijakan untuk membuat orang dapat tetap bekerja melebihi usia 70 tahun.

Komentar

Loading...