Penyebab Perang Dagang karena AS Takut Dikalahkan China?

Foto: Infografis/Saling balas serangan AS VS CHINA/Aristya Rahadian krisabella

Jakarta - Pengaruh Amerika Serikat (AS) dalam kehidupan ekonomi dan politik negara lain sudah lama diketahui sangat besar. Bukti sederhananya adalah apa yang terjadi saat ini dalam perang dagang antara AS dengan China, yang sampai mempengaruhi negara-negara lainnya.

Seperti diketahui, China dan AS masih terlibat perang dagang hingga hari ini, Senin (4/11/2019). Kedua ekonomi terbesar itu sudah terlibat perang dagang sejak awal tahun 2018 lalu dan menerapkan tarif hingga ratusan miliar dolar terhadap barang satu sama lain.

Berbagai faktor penyebab perang dagang mereka di antaranya adalah karena AS menganggap China melakukan praktik perdagangan yang tidak adil seperti melakukan pencurian kekayaan intelektual. Juga, akibat lebarnya defisit perdagangan antara kedua negara.

Dampak perang dagang itu sendiri sudah cukup terasa di China dan AS. Bahkan sampai mengancam pertumbuhan ekonomi dunia dan menjuruskan dunia ke dalam resesi.

Tapi, hingga saat ini masih banyak yang meragukan bahwa penyebab utama perang dagang kedua negara adalah praktik perdagangan China dan juga defisit. Sebab jika memang defisit, AS nyatanya tidak hanya mencatatkan defisit perdagangan yang lebar dari transaksinya dengan China.

Pemerintahan Presiden Donald Trump ini juga memiliki defisit perdagangan yang lumayan lebar dengan sekutunya, Jepang, seperti yang diungkapkan Michael Ivanovitch, seorang analis independen yang berfokus pada ekonomi dunia, geopolitik dan strategi investasi dalam tulisannya di CNBC International.

"Dengan Jepang, AS memiliki defisit sebesar US$ 48,6 miliar dalam delapan bulan pertama tahun ini, meningkat 6,3% dari tahun sebelumnya," katanya.

"Sementara itu dengan Uni Eropa, pada periode Januari hingga Agustus, surplus perdagangannya dengan AS mencapai 102,7 miliar euro, dan defisit perdagangan 127,4 miliar euro dengan China," katanya.

"Jerman menyumbang hampir sepertiga dari surplus dengan AS dan mengalami defisit yang sangat kecil dengan China, yaitu 7,5 miliar euro," katanya.

Ivanovitch juga mengatakan Jepang dan Jerman cukup banyak terdampak oleh perang dagang AS-China. Ia mengatakan, Kementerian keuangan Jepang mengumumkan pekan lalu bahwa rata-rata pertumbuhan tahunan Jepang adalah 0,6% pada tahun ini hingga Juni.

Namun begitu Jepang tidak berencana untuk menyuntikkan stimulus untuk menopang perekonomiannya yang lesu, tambahnya.

Jerman juga demikian, tambahnya. Meski ekonominya terus melambat dalam beberapa bulan terakhir, namun negara ini mengatakan belum perlu membuat kebijakan untuk mendorong ekonominya, yang juga diperkirakan akan mandek di bulan-bulan mendatang.

"Jepang ternyata melakukan bisnis yang cepat dengan AS dan China. Dalam delapan bulan pertama tahun ini, ekspor Jepang ke China mencapai US$ 86,4 miliar, hampir menyamai ekspor ke AS yang sebesar US$ 94,6 miliar. Kedua negara saat ini menyumbang hampir 40% dari total penjualan Jepang di luar negeri," katanya.

Berdasarkan hal itu, Ivanovitch pun beranggapan bahwa China kemungkinan akan bisa menyamai AS dalam hal perdagangan, yang mungkin menjadi kekhawatiran AS. Namun, ia mengatakan perang dagang bukanlah jalan yang tepat bagi kedua negara untuk bersaing.

"AS akan disarankan untuk membuat kesepakatan perdagangan yang cepat dengan China dan untuk mengurangi retorika anti-China yang serampangan dan kontraproduktif," katanya.

"China, pada bagiannya, harus memahami bahwa neraca perdagangannya yang seimbang dengan AS adalah titik tolak untuk hubungan konstruktif yang bisa dijalani oleh kedua negara dan itu bisa sangat bermanfaat bagi negara-negara lain di dunia," jelas pria yang juga merupakan ekonom senior di OECD di Paris, ekonom internasional di Federal Reserve Bank New York, dan pengajar ekonomi di Columbia Business School itu.

Komentar

Loading...