Stan Kopi Aceh Raup Omzet Belasan Juta di Arena HPS

Stand NAD yang menampilkan produk Kopi Aceh diserbu pengunjung pameran serangkaian Hari Pangan Sedunia (HPS) di Kendari, Sulawesi Tenggara. (Foto ANTARA/Sarjono)

Kendari - Stand Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang memarkan produk Kopi Aceh diserbu pengunjung Hari Pangan Sedunia (HPS) yang dihelat di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara hingga dalam hitungan jam sudah meraup omzet Rp12 juta.

Pantauan dari arena pameran serangkaian HPS di Kendari, Sabtu, peminat Kopi Aceh berbagai kalangan tanpa batas usia, laki-laki maupun perempuan.

Pemilik Gayo Gold Coffe, Ariga Wiyan Fadli (44) menggaet penggemar dengan menawarkan minuman gratis secangkir ukuran kecil setiap pengunjung.

"Mulanya sepi tetapi setelah beberapa orang merasakan nikmatnya Kopi Aceh peminat terus bertambah hingga kewalahan melayani secara gratis," kata Fadli.

Gayo Gold Coffe dijual dalam berbagai kemasan, yakni Luwak Liar Gayo seharga Rp250 ribu/bungkus, Long Baary seharga Rp200 ribu/bungkus, Wine Coffe dan Pea Berry Rp150 ribu dan Arabica Spesciality gayo seharga Rp100 per bungkus.

Hasman (36) mengaku berminat belanja Kopi Aceh untuk membuktikan khasiatnya meningkatkan daya tahan tubuh.

"Katanya Kopi Aceh untuk perkasa. Saya mau coba untuk membuktikan benar atau tidak," Hasman sembari tersenyum.

Sementara itu stand pameran Kalimantan Barat menampilkan Lidah Buaya (Aloevera) yang menghasilkan produk sirup, kripik, coklat, agar agar.

Kasi Pengembangan Teknologi dan Informasi, Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat Erviyanto mengatakan bahan makanan yang diolah berbahan baku Lidah Buaya masih produksi rumahan.

"Pemerintah mendukung kelompok usaha kecil atau produksi rumahan mengolah Lidah Buaya menjadi makanan. Ini menggairahkan ekonomi kerakyatan," kata Erviyanto.

Komentar

Loading...