Potensi Minyak RI Masih Jumbo, Tapi Produksi Kendor Sejak 1994

Suasana kilang minyak Pertamina Refenery Unit IV Cilacap, Rabu (7/2). Produk utama yang dihasilkan kilang Cilacap berupa produk BBM atau gasoline, naphtha, kerosine, avutur, solar LSWR, minyak bakar, LPG, pelumas dasar. (Liputan6.com/JohanTallo)

Jakarta - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menyebut, produksi minyak Indonesia mencapai titik puncaknya pada 1978. Namun, sejak tahun 1994 produksi minyak terus mengalami penurunan.

"Jadi di situ kelihatan bahwa untuk minyak sesungguhnya sejak sekitar tahun 1994 itu terus turun dan tertinggi ketika tahun 1978 dan kemudian naik turun," kata Dwi di hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/10/2019).

Padahal, Dwi mengatakan, Indonesia punya 128 cekungan. Dari 128 cekungan itu, sebanyak 54 cekungan telah dieksplorasi.

Lanjutnya, dari 54 cekungan tersebut baru sebanyak 19 cekungan yang berproduksi.

"Indonesia itu ada 128 cekungan dan baru dieksplor sebanyak 54 cekungan. Dan hanya baru 19 cekungan yang dalam posisi produksi," ungkapnya.

Sebab itu, dia menuturkan, potensi minyak Indonesia masih sangat besar. Dia mengatakan, pemerintah akan mendorong investasi migas.

"Kita ingin menyampaikan bahwa potensi itu masih sangat besar. Untuk itu sekarang kita lagi fokus untuk menawarkan 10 yang kami indikasi potensi yang besar untuk menuju giant discovery. Itu salah satu yang kita lakukan," terangnya

Komentar

Loading...