Rencana Legalisasi Tanaman Ganja di Malaysia dan Negara Asia Tenggara Lain

Malaysia sudah mulai membicarakan legalisasi tanaman ganja untuk keperluan medis. (Foto: Thinkstock)

Jakarta - Malaysia sudah mulai membicarakan legalisasi tanaman ganja untuk keperluan medis, menyusul Thailand yang sudah terlebih dahulu mengesahkan peraturan soal ganja di akhir 2018 silam.

Thailand menjadi negara yang pertama di Asia Tenggara yang melegalkan pemakaian ganja medis untuk kepentingan pengobatan dan ilmu pengetahuan. Dimulai pada 2018, kebijakan tersebut disebut sebagai kado tahun baru bagi pasien yang membutuhkan obat alternatif penghilang rasa sakit.

Kabar pelegalan ganja medis di Malaysia pertama kali mencuat setelah warga di sana membuat petisi untuk membebaskan Muhammad Lukman Bin Mohamad dari hukuman mati wajib karena memiliki lebih dari 200 gram ganja yang ia lakukan untuk mengobati lebih dari 800 orang.

Direktur Jenderal Badan Anti Narkoba Nasional Malaysia, Datuk Seri Zulkifli Abdullah menuturkan ada ketentuan dalam undang-undang Malaysia yang mengizinkan penanaman tanaman ganja di negara asalkan memenuhi beberapa persyaratan atau izin khusus.

Jika tanaman ganja terbukti bermanfaat untuk penggunaan obat-obatan maka pihak-pihak terkait harus melihat ke dalam pengembangan industri secara lokal selama itu sesuai dengan ketentuan hukum Malaysia.

"Itulah mengapa penting bagi kementerian kesehatan untuk memverifikasi ganja agar dapat digunakan untuk tujuan pengobatan karena mereka memiliki wewenang untuk melakukannya," katanya dikutip dari The Coverage.

Sementara itu, Menteri Air, Tanah, dan Sumber Daya Alam Dr. A. Xavier Jayakumar Malaysia mengungkapkan bahwa kabinet telah memulai pembicaraan informal untuk mempertimbangkan nilai obat dari ganja.

Mengutip bahwa legalisasi ganja medis telah dilakukan di negara-negara tertentu, Dr. Xavier menambahkan bahwa obat tersebut harus diizinkan untuk digunakan untuk tujuan pengobatan.

"Pandangan pribadi saya adalah bahwa jika mendapat nilai obat, maka itu dapat menjadi item yang terkontrol yang dapat digunakan oleh Departemen Kesehatan untuk tujuan resep," sebut Xavier.

Rencana negara tetangga terdekat Indonesia ini memunculkan kisah lama tentang Fidelis, pria asal Kalbar, yang dibui karena kepemilikan 39 batang ganja yang ia gunakan untuk pengobatan istrinya.

Pada saat itu, Fidelis sungguh sadar apa yang ia perbuat akan mendapatkan sanksi sangat berat namun ia tahu hanya ekstrak ganja yang bisa mengobati syringomyelia yang diidap istrinya.

Meski demikian, banyak pihak yang menyangsikan hal tersebut salah satunya Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek. Kala itu, ia menegaskan bahwa belum ada kajian tentang khasiat ganja untuk kesehatan. Ganja murni zat adikitif dan tidak ada manfaat pengobatan.

"Ganja itu zat adiktif, kalau itu dipakai, kalau itu dibenarkan, artinya kita membenarkan memakai ganja. Jadi enggak bisa. Belum ada bukti. Di dunia pun juga tidak membuktikan ada manfaat," kata Menkes.

Komentar

Loading...