Tambang Emas di Burkina Faso Diserang Teroris, 20 Orang Tewas

Foto: Tambang emas di Afrika/Reuters

Jakarta - Tambang emas di Burkina Faso, negara di Afrika Barat, diserang kelompok bersenjata yang menewaskan 20 orang yang sebagian besar penambang emas. Sumber keamanan di sana mengungkapkan pada Sabtu (5/10/2019) bahwa ada dugaan kelompok jihadis Al-Qaeda di balik serangan ini.

Dilansir dari AFP dan dikutip Manila Buletin, Minggu (6/10/2019), serangan itu terjadi pada Jumat waktu setempat di Provinsi Soum, tidak jauh dari tempat yang diduga jihadis meledakkan sebuah jembatan yang menghubungkan dua kota utara pada pertengahan September lalu.

"Orang-orang bersenjata menyerang lokasi penambangan emas di Dolmane, menewaskan sekitar 20 orang tewas, terutama penambang emas," kata salah satu pihak keamanan, dikutip CNBC Indonesia, Minggu ini.

Sumber keamanan lain juga mengkonfirmasi, serangan itu juga mengakibatkan sejumlah orang terluka, tanpa memberikan perincian lebih lanjut.

Burkina Faso adalah sebuah negara di Afrika Barat yang 'dikepung' daratan. Di sebelah utara negara ini berbatasan dengan Mali, Togo dan Ghana di selatan, Nigeria di timur, Benin di tenggara, dan Pantai Gading di barat daya.

Negara di kawasan Afrika Barat ini telah menjadi bagian dari pemberontakan selama 4,5 tahun di wilayah Sahel. Banyak serangan telah dikaitkan dengan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda dan lainnya karena yang disebut kelompok ISIS.

Berdasarkan perhitungan AFP, lebih dari 585 orang telah tewas sejak awal 2015 akibat konflik ini. Dalam sepekan lalu, masih mengacu AFP, 17 orang, termasuk seorang tentara, tewas dalam serangan di utara negara tersebut.

Pada 29 September, sekitar 20 orang dengan sepeda motor menyerang desa Komsilga di Provinsi Bam, menewaskan sembilan orang dan membakar toko-toko. Di hari yang sama, tujuh orang terbunuh setelah orang-orang bersenjata menyerang desa Deneon di Provinsi Bam.

Serangan terhadap lambang negara dan adanya tabrak-lari di desa-desa terpencil di negeri itu telah memaksa sekitar 300.000 orang meninggalkan rumah mereka ke selatan untuk mengungsi. Serangan-serangan itu juga memicu kekerasan antar-komunitas dan sekitar 2.000 sekolah ditutup.

Para pemimpin Afrika Barat bulan lalu mengumumkan rencana dengan bujet miliaran dolar untuk memerangi tingginya masalah kekerasan di wilayah tersebut. Dana masih menjadi kendala pemerintah dalam menahan gelombang kekerasan di wilayah ini.

Menurut lembaga think tank AS, Center for Strategic and International Studies (CSIS), jumlah serangan radikal terkait Islam di Sahel meningkat dua kali lipat setiap tahun sejak 2016.

Komentar

Loading...