Ngeri! Ini Deretan Dampak Resesi Ekonomi ke Masyarakat

Foto: Luthfy Syahban/Tim Infografis

Jakarta - Ancaman resesi ekonomi semakin nyata setelah disinggung banyak kalangan. Bahkan orang-orang superkaya telah mempersiapkan diri.

Seperti setengah orang superkaya di dunia telah memindahkan beberapa aset keuangannya ke instrumen yang memiliki risiko rendah. Potensi terjadinya resesi pada negara maju terlihat dari dinamika global yang tak kunjung menurun tensinya.

Salah satunya adalah perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS) yang hingga saat ini tidak pernah ada solusi konkret untuk menyelesaikannya. Ancaman resesi di negara maju pun nantinya akan berdampak pada negara-negara berkembang lainnya seperti Indonesia.

Lalu apa saja dampak yang akan terjadi setelah resesi terjadi di negara-negara maju dan apa yang harus dilakukan negara berkembang seperti Indonesia?

Masyarakat Harus Berbuat Apa?

Sebagian orang superkaya di dunia sudah mulai mengantisipasi resesi ekonomi dengan memindahkan sebagian aset keuangannya di instrumen yang berisiko tinggi ke beresiko rendah seperti surat utang negara (SUN) jangan pendek hingga emas.

Namun resesi ekonomi juga harus dihadapi oleh sebagian masyarakat yang masuk dalam kelompok biasa-biasa saja. Apa yang harus mereka lakukan saat resesi?

Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah mengatakan yang harus dilakukan masyarakat kelompok biasa juga sama dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang super kaya.

"Sebenarnya sama, masyarakat biasa juga harus mengamankan aset. Cuma biasanya kan masyarakat umum jumlah nilai dan ragam aset nya tidak banyak. Jadi pengamanannya tidak kompleks," kata Piter saat dihubungi detikcom, Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Jika terjadi resesi ekonomi, Piter menegaskan bahwa kelompok masyarakat biasa harus memanfaatkan penghasilannya dengan baik. Maksudnya, tidak membelanjakan dananya untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan.

Sebab jika resesi ekonomi terjadi, maka nilai penghasilan yang selama ini didapatkan pun bisa berkurang. Sehingga, kunci bagi kelompok masyarakat biasa adalah mengamankan likuiditas.

Perusahaan Tutup Hingga PHK

Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah mengungkapkan bahwa resesi ekonomi bisa membuat masyarakat kehilangan penghasilan.

"Dengan perlambatan ekonomi, beberapa perusahaan bisa tutup, bisa terjadi PHK, terjadi penurunan penjualan dan juga income," kata Piter saat dihubungi detikcom, Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Piter melanjutkan, resesi ekonomi juga mengancam instrumen investasi milik masyarakat khususnya di pasar keuangan. Sebab, resesi bisa menurunkan nilai suatu portofolio atau aset seperti saham.

Resesi sendiri bisa terjadi karena berbagai dinamika global. Salah satunya adalah perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS). Dinamika dunia ini ujung-ujungnya membuat pertumbuhan perdagangan internasional menurun. Sehingga banyak negara yang kinerja perekonomiannya terdampak.

Oleh karena itu, dikatakan Piter masyarakat harus mengamankan aset keuangannya ke instrumen yang memiliki risiko rendah. Misalnya, dari investasi di sektor keuangan dialihkan kepada emas batangan.

Pemerintah Harus Lakukan Ini

Potensi resesi ekonomi pada negara maju tentunya akan berdampak pada negara-negara berkembang seperti Indonesia. Namun untuk mengatasi ancaman resesi, Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN) Bambang Brodjonegoro mengatakan bisa dilakukan dengan mengucurkan belanja Pemerintah lebih banyak, memangkas tarif pajak, dan menurunkan suku bunga.

"Memang kalau teorinya, kalau menghadapi resesi maka government spending-nya harus lebih tinggi, tax rate harus diturunkan, kemudian tingkat bunga harus direlaksasi, itu teori dasarnya," kata Bambang di kantor pusat BPS, Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Anggaran belanja negara pada tahun 2020 ditetapkan sebesar Rp 2.540,4 triliun atau naik Rp 11,6 triliun dari yang diusulkan sebesar Rp 2.528,8 triliun.

Menurut Bambang, dengan anggaran belanja yang jumbo tersebut diharapkan bisa menjadi stimulus perekonomian nasional untuk menghadapi ancaman resesi.

Komentar

Loading...