Misteri Ratusan Kerangka di Himalaya Makin Dalam

Salah satu kerangka di danau Roopkund. Foto: Wikimedia Commons

Jakarta - Roopkund adalah sebuah danau terpencil di Himalaya wilayah India di ketinggian sekitar 5.000 meter, yang sudah lama menarik perhatian arkeolog. Pasalnya, di sana ada banyak kerangka manusia, jumlahnya diperkirakan 800 orang. Kini, misterinya malah makin dalam.

Studi terkini yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications mencoba membongkar apa yang terjadi di 'Danau Kerangka' itu. Tapi hasilnya malah menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban.

Dikutip detikINET dari National Geographic, pada awal tahun 2000, riset DNA mengindikasikan orang-orang yang meninggal di Roopkund adalah keturunan Asia Selatan. Mereka diduga kehilangan nyawa dalam sebuah peristiwa tunggal pada sekitar tahun 800.

Dalam studi terbaru yang menganalisa 38 kerangka, ada 23 orang keturunan Asia Selatan, tapi mereka meninggal secara sporadis dalam satu atau beberapa event berbeda antara tahun 700 sampai 1000.

Anehnya, 14 korban meninggal dalam peristiwa terpisah dalam jarak waktu begitu jauh, yaitu di sekitar tahun 1800. Dan yang lebih aneh, mereka bukan dari Asia Selatan melainkan Mediterania. Tepatnya dari Yunani dan Kreta. Tidak ada satupun dari kerangka yang diteliti punya hubungan satu sama lain.

Jadi, kenapa ada sekelompok orang dari Mediterania sampai ada di sana dan apa penyebab mereka tewas? Para periset belum dapat mengetahuinya.

"Kami gagal menjawab kenapa orang Mediterania bepergian ke danau ini dan apa yang mereka lakukan," ucap Niraj Rai, arkeolog dari Birbal Sahni Institute of Palaeosciences yang ikut serta dalam riset ini.

"Mungkin ini adalah misteri yang lebih pelik dari sebelumnya. Tidak bisa dipercaya karena tipe keturunan yang kami temukan di sekitar sepertiga individual sangat tidak biasa di bagian dunia ini," kata David Reich, ahli genetik Harvard.

Penyebab kematian ratusan orang di danau terpencil yang sama itu masih tetap misteri. Kematian karena kekerasan dikesampingkan karena tidak ada senjata ditemukan atau tanda-tanda peperangan. Para korban juga dalam keadaan sehat ketika meninggal sehingga penyebabnya bukan wabah penyakit.

Ada teori bahwa mereka terjebak cuaca buruk dan meninggal dunia. Mitos lokal menyebutkan, mereka adalah peziarah yang karena hal tertentu membuat dewa marah, lalu dihukum hingga tewas. Namun semua teori yang sejauh ini telah dimunculkan belum memuaskan.

Komentar

Loading...