Alasan Mitsubishi Ngotot Kenalkan Outlander PHEV

Mitsubishi Outlander PHEV Foto: Rangga Rahadiansyah/detik.com

Jakarta - Mitsubishi coba ikut menggebrak pasar otomotif Indonesia, dengan memperkenalkan mobil ramah lingkungan Outlander PHEV di Indonesia. Memiliki banderol yang relatif tinggi yakni Rp 1,2 miliaran, Mitsubishi bisa dikatakan cukup berani untuk memperkenalkannya.

Bagaimana tidak berani, seperti yang detikers ketahui hingga saat ini pemerintah masih enggan mengetuk palu aturan kendaraan ramah lingkungan. Namun, bukan Mitsubishi namanya jika tidak memiliki jawabannya.

President Director of PT MMKSI, Naoya Nakamura menjelaskan apa yang menjadi alasan Mitsubishi ngotot memperkenalkan Outlander PHEV.

"Kenapa sudah diluncurkan? Kita bukan brand yang menunggu sesuatu, kami brand yang membuat sesuatu dan mewujudkannya," ujar Nakamura.

Jika demikian, semuanya balik ke tangan pemerintah lagi nih detikers, kapan akan menentukan aturan mobil ramah lingkungan di Indonesia. Tentunya bertujuan untuk bisa menekan harga jualnya, dan masyarakat Indonesia bisa menikmatinya.

Soal spesifikasi, Mitsubishi Outlander PHEV mengusung mesin bensin 2.4 liter. Mesin itu dikombinasi dengan motor listrik yang punya tenaga 60 kW di roda depan dan 70 kW pada roda belakang. Soal tenaga, mesin konvensional bisa memuntahkan tenaga maksimal 132,8 dk dengan torsi 211 Nm.

Outlander PHEV dikatakan menjadi salah satu mobil plug-in hybrid yang unik, sebab memiliki tiga mode berkendara, yakni mode EV, mode HEV, dan juga mode Parallel Hybrid.

Mitsubishi Outlander PHEV Foto: Rangga Rahadiansyah/detik.com

Sedikit info soal mode berkendara Outlander PHEV, pada mode EV mobil akan bergerak dari tenaga baterai yang dikirimkan ke motor listrik yang terdapat pada roda depan dan belakang.

Selanjutnya pada mode HEV (Hybrid Electric Vehicle), saat baterai berkurang, maka mesin akan membantu baterai agar memiliki kapasitas baterai yang stabil. Sehingga baterai akan tetap menyuplai tenaga ke motor listrik yang terdapat pada roda depan dan belakang. Artinya, mesin konvensional akan berperan mirip generator.

Sementara pada mode Parallel Hybrid, sistem ini berfungsi di saat pengendara membutuhkan tenaga lebih. Misal ketika baterai mulai berkurang, maka mesin konvensional akan tetap menjaga pasokan baterai, dan baterai akan memberikan energi pada motor listrik yang berada pada roda depan dan belakang.

Tidak sampai di situ, pada sistem Mode Parallel Hybrid, mesin konvensional juga berperan memberikan energi langsung pada motor listrik tidak melalui baterai.

Komentar

Loading...