Plt Gubernur: Program Aceh Meugoe dan Meulaot Solusi Tingkatkan Ekonomi Warga Pesisir

Plt Gubenrur Nova Iriansyah

Banda Aceh, Aceh Bisnis - Berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan 15 program unggulan yang tertuang dalam Aceh Hebat dan semua program tersebut sangat penting untuk memajukan dan menyesejahterakan rakyat Aceh. Meskipun ada yang telah dicapai, dan ada tengah dibina sementara sisanya sedang dijajaki.

Namun, dalam dua tahun kepemimpinan Irwandi – Nova tersebut berbagai program tersebut mulai menampakkan hasil. Memang, belum semuanya tecapai sesuai target. Tapi geliat itu mulai menampilkan hasil seperti program Aceh Meugoe dan Meulaot.

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menyatakan, program Aceh Meugoe dan Meulaot fokus pada pengembangan budidaya perikanan, pengembangan perikanan tangkap, serta peningkatan nilai tambah produksi perikanan.

“Kita akan terus melakukan pengembangan budidaya perikanan, dan perikanan tangkap, agar dapat mendorong pemberdayaan perekonomian masyarakat di wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di Provinsi itu,”kata Nova di Banda Aceh, Jum'at (19/7/2019).

Untuk mendukung upaya tersebut, kata Nova, Pemerintah Aceh telah membangun 17 cluster budidaya perikanan, BLU PPS di Lampulo dan Idi. “Budidaya perikanan air tawar dan laut dilakukan di 23 kabupaten/kota di Aceh,”jelasnya.

Plt Gubernur Aceh juga menyatakan, sebagai bentuk pengawasan, Pemerintah Aceh juga dilaksanakan patroli Marine Control System (MCS) Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 571 di Bireuen dan Aceh Utara, patroli MCS WPP 572 di Meulaboh dan Singkil.

“Berbagai inovasi, program dan kegiatan yang dilakukan Pemerintah Aceh berimbas pada peningkatan nilai ekspor hasil perikanan Aceh sebesar Rp.62,23 miliar lebih. “Hasil ini melampaui target RPJM sebesar Rp.16,13 miliar lebih,”sebut Nova.

Di tahun 2018, jelas Plt Gubernur Aceh, Pemerintah Aceh berhasil meraih juara II nasional Kategori Menu Kudapan pada Lomba Inovasi Masakan Berbahan Baku Ikan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Selain itu, Pemerintah Aceh juga melakukan berbagai upaya meningkatkan sektor pertanian dan perkebunan di Provinsi itu. “Kedua sektor ini merupakan sektor sangat besar untuk mendukung pelaksanaan pembangunan menuju terwujudnya Aceh Troe dan sejahtera,”terang Nova.

“Aceh memiliki hamparan lahan perkebunan, lahan tanaman pangan, dan palawija. Hal itu dibuktikan 2 tahun pencapaian kerja dirinya bersama Irwandi dalam menurunnya daerah rawan pangan, yang  sebelumnya 108 kecamatan menjadi 31 kecamatan saja,”papar dia.

Dikatakannya, seluas 30 persen dari luas daratan Aceh adalah lahan pertanian dan perkebunan. Di samping itu, dari sekitar 5,2 juta penduduk Aceh, 70 persen di antaranya tinggal di pedesaan dan 70 persen dari mereka bekerja sebagai petani.

“Hal itu juga memberi efek pada peningkatan produktifitas  padi dari 5,3 ton per hektar pada tahun 2017 menjadi 5,7 ton per hektar pada tahun 2018,”sebut Nova.

Selain itu di dua tahun masa kerja Irwandi-Nova pelaksanaan program Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM)/Toko Tani Indonesia (TTI) sangat berperan aktif dan terbukti efektif mengatasi anjloknya harga pada masa panen raya dan tingginya harga pada saat paceklik.

“Hal ini menjadi instrumen yang dibuat Pemerintah Aceh untuk menahan gejolak harga dalam situasi tertentu, ini juga merupakan mekanisme yang berkelanjutan baik pada saat situasi suplai melimpah dan kurang atau sebagai stabilisator, dalam menjaga pasokan pangan pemerintah bersama masyarakat,”tambah Nova.

Sementara di Gayo yang menjadi sentra produksi kopi, hasilnya juga meningkat dari 773 kilogram per hektar pada tahun 2017 meningkat menjadi 777 kilogram per hektar pada tahun 2018. Skor PPH (Pola Pangan Harapan) konsumsi tahun 2017 yaitu 73,3 meningkat menjadi 74,8 pada tahun 2018. Aceh Memperoleh sertifikasi akreditasi laboraturium  keamanan pangan.(adv)

Komentar

Loading...