Hukum Nazar Membiayai Haji Orang Lain

Jemaah haji Indonesia berangkat ke Makkah dari Madinah. Foto: Darmawan/MCH

Jakarta, AcehBisnis - Banyak masyarakat dari golongan ekonomi atas yang sering bernazar membiayai orang lain haji atau umrah jika masalahnya dapat di selesaikan. Tak jarang di temui orang yang memiliki pendapatan tinggi sering kali membiayai orang lain menunaikan ibadah haji.

Dilansir dari buku 100 Tanya-Jawab Haji & Umrah karya Yusuf Al Qaradhawi bahwa seseorang yang benazar untuk membiayai perjalanan haji orang lain maka hukumnya sah-sah saja. Tetapi jika seseorang yang benazar itu membayar nazarnya dengan menggunakan harta zakatnya untuk membiayai perjalanan haji orang lain itu dilarang.

yang kelima itu, terlebih jika orang yang diberangkatkan adalah sanak kerabatnya sendiri. Menurut yusuf hal tersebut boleh dan wajib di bayarkan, sebagaimana firman Allah SWT.

"Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana." (QS Al-Insan : 7)

Yusuf juga mengatakan dibanding dengan bernazar membayar biaya haji atau umrah orang lain, lebih baik jika seseorang bernazar menyumbangkan harta untuk kaum fakir miskin, kepentingan sosial, dakwan islam, bantuan pasukan kaum muslimin atau untuk menolong umat Islam yang tetindas di berbagai belahan dunia.

"Akan tetapi karena sudah terlanjur bernazar, walaupun bagaimanapun ia harus memenuhi nazarnya," jelas Yusuf dalam bukunya.

Komentar

Loading...