Massa Bubarkan Konser Base Jam di Festival Kuliner di Banda Aceh

Foto: Istimewa

Banda Aceh, Aceh Bisnis – Konser band Basejam yang sedang tampil di malam penutupan Festival Kuliner Aceh, Minggu (7/7/2019) malam di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, dibubarkan sekelompok massa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dilapangan, serta amatan dari video yang beredar sempat terjadi saling dorong antara panitia dengan sekelompok massa. Tapi belum tahu pasti penyebab pembubaran konser tersebut.

Menurut keterangan saksi dilokasi, massa yang berjumlah puluhan itu langsung masuk ke dalam panggung dan mencoba membubarkan konser Basejam yang saat itu Basejam baru melantunkan tiga lagu.

Massa yang membubarkan konser tersebut menginginkan agar konser Basejam itu dibatalkan. Karena kesepakatan itu sudah disepakati sebelumnya dengan pihak panitia. Akhirnya, massa membubarkan diri saat panitia menghentikan konser tersebut.

Sebelumnya, protes warganet bermula dari desain poster yang beredar di berbagai platfrom media sosial Aceh dengan posisi karikatur Mesjid Raya Baiturrahman di bawah personil grup band yang tidak berbusana sesuai dengan peraturan daerah Aceh yang menerapkan syariat Islam.

Dari pertemuan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh bersama tim ahlussunah waljamaah (aswaja) Aceh di salah satu warung di Banda Aceh, diketahui desain poster tersebut, di buat oleh tim kreatif Generasi Pesona Indonesia (GenPI) di bawah Kementerian Parawisata (Kemenpar) Republik Indonesia, bukan desain dinas Budpar Aceh.

“Untuk itu, Disbudpar Aceh sudah meminta  mencabut konten tersebut, Kemenpar sudah meminta maaf atas kekhilafan tim mereka,”kata Ust Umar Rafsanjani selaku ketua tim Aswaja Aceh.

Sesuai kesepakatan Tim aswaja dengan kadis budpar Aceh, Ia meminta Base Jam tidak tampil dengan iringan musik  pada malam penutupan ACF, Namun hanya meng-endorse dan mempromosikan Kuliner Aceh di tingkat nasional dan manca negera.

Dalam pertemuan singkat itu FPI Banda Aceh juga mengeluarkan sikap jika kesepatakan tersebut tidak diindahkan atau dilanggar jika terjadi keributan malam penutupan, itu diluar tanggung jawab kami.

Kepala Disbudpar Aceh Jamaluddin mengapresiasi kedatangan tokoh-tokoh peduli agama dan syariat, pemerintah memang harus berkoordinasi baik antara ulama dan umara sesuai perintah UU atau Qanun Aceh.

“Semestinya, semua stakeholder pemerintah pusat, menghormati perda Aceh yang menerapkan syariat islam secara kaffah. Layaknya menghormati Bali dengan bentuk adat istiadatnya,”kata Tgk Mustafa Woyla Jubir DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh.

Untuk itu, Ia berharap cukup kali ini yang terakhir kealpaan stakeholder pemerintah pusat terkait event musik, konser atau unsur lain yang melanggar syariat islam.

“Saya meminta kepada semua pemerintah Kabupaten Kota agar menghindari membuat konser di malam hari. Karena peluang maksiat sangatlah besar jika bukan siang hari,”pungkas Mustafa Woyla yang jubir FPI Aceh.()

Komentar

Loading...