2 Tahun Pimpin Banda Aceh, Aminullah – Zainal Dinilai Gagal

Banda Aceh, Aceh Bisnis – Serikat Media Sekber Indonesia (SMSI) menilai pasangan Aminullah Usman dan Zainal Arifin sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banda Aceh gagal dalam memimpin Ibu Kota Provinsi itu.

Sejak dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banda Aceh periode 2017-2022 pada tanggal 8 Juli 2017 lalu, artinya sudah dua tahun kepemimpinan pasangan tersebut memimpin ibukota provinsi tersebut.

Mewujudkan Kota Banda Aceh yang gemilang dalam bingkai syariah, pasangan Aminullah Usman dan Zainal Arifin menjelaskan misi yang akan dicapai pada periode pemerintahannya, diantaranya yakni, soal peningkatan kunjungan wisatawan, mencari investor untuk solusi persolan minimnya pasokan listrik, pelayanan birokrasi yang bebas KKN, memperbaiki infrastruktur gampong, dan mewujudkan Banda Aceh yang bebas banjir dan genangan, serta upaya menaikkan nilai pendapatan asli daerah (PAD)

“Namun, sudah 2 tahun kepemimpinan Aminullah dan Zainal masih banyak persoalan yang belum dapat diselesaikan, diantaranya masalah pelayanan air bersih, Investasi, infrastruktur, dan sektor periwisata,”kata Ketua SMSI Aceh, Hendro Saky di Banda Aceh, Senin (8/7/2019).

Ia menyatakan, hingga saat ini masalah air bersih masih menjadi pekerjaan besar yang belum sama sekali mengalami kemajuan, baik dari sisi distribusi pelayanan berupa penyambungan baru, atau pun infrastuktur pendukung penyediaan air bersih bagi masyarakat.

“Sehingga masalah air bersih masih menjadi keluhan terbesar bagi warta Kota Banda Aceh. Dalam mewujudkan misi ini, SMSI menilai Aminullah Usman dan Zainal Arifin masih gagal memenuhi harapan warga kota,”ungkap dia.

Begitu juga soal janji investasi, jelas Hendro, dalam mengatasi persoalan energi, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), yang sempat digagas pemerintahan sebelumnya, hingga saat ini belum terwujud, dan masih berupa komitmen antara pemko Banda Aceh dan investor.

“Akibatnya, sebagai ibukota provinsi, ancaman kegelapan masih saja sering terjadi didaerah ini,”terangnya.

“Jika bicara janji Aminullah dan Zainal Arifin soal banjir dan genangan, hal ini sepertinya juga tidak terwujud, ini dapat kita lihat, jika hujan deras mengguyur kota Banda Aceh, dipastikan genangan air disejumlah tempat terjadi, dan bahkan genangan tersebut memerlukan waktu yang lama untuk kering, sebut saja di kawasan Simpang Mesra yang kerap terjadi genangan, di kawasan Neusu, dan juga di ruas jalan lainnya,”sebutnya.

Sementara itu, Sekretaris SMSI Aceh, Akhiruddin Mahjuddin menyebutkan, kunjungan wisatawan ke Banda Aceh terjadi penurunan arus kedatangan wisatawan asing ke Banda Aceh, dari sejak 2017 hingga 2019.

“Dari data yang dirilis BPS, terdapat penurunan jumlah kunjugan turis asing hingga 53 persen,”ungkap dia.

Terkait investasi, kata Akhiruddin, dalam dua tahun terakhir, sebagai ibukota yang mengandalkan sektor jasa dan perdagangan, nyaris tidak ada investasi baru yang masuk ke Banda Aceh, baik sektor perhotelan, dan sektor pedagangan jasa lainnya.

“Sebagai daerah yang mengandalkan perdagangan dan jasa, Pemerintahan Aminullah Usman dan Zainal Arifin juga gagal dalam menaikkan pendapatan asli daerah atau PAD, ini dapat kita lihat pada 2018, target PAD sebesar Rp257 miliar, hanya mampu direalisasikan Rp229 miliar. Tentu saja, dengan minimnya perolehan PAD bagi ibukota provinsi ini, pembangunan daerah masih sulit diwujudkan,”pungkasnya.

Meskipun demikian, kata dia, terdapat beberapa kemajuan yang telah dicapai oleh Pemko Banda Aceh, namun beberapa persoalan pelayanan dasar rakyat belum terjawab dalam dua tahun terakhir ini.()

Komentar

Loading...