Masykur Masih Kekurangan Rp1,4 Juta untuk Menebus Perisai Kuno Kerajaan Aceh

Penampakan perisai peninggalan abad 19 yang telah diperjualbelikan di Pulau Dewata. (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Aceh - Masykur Syafruddin bukanlah JC alias Martin (Jackie Chan) dalam film Chinese Zodiac. Namun, keduanya punya kesamaan: ingin menyelamatkan aset sejarah masa lalu.

Dalam film berjudul asli Sap Ji Sang Ciu itu orientasi JC berubah, yang awalnya seorang pencuri bayaran menjadi orang yang rela bertaruh nyawa demi menyelamatkan artefak milik negara.

Sementara Masykur, sudah jauh-jauh hari meluangkan waktu dan pikiran untuk menyelamatkan aset peninggalan masa lalu dari tangan-tangan tidak bertanggungjawab. Jumlah manuskrip dan artefak yang dikumpulkannya mencapai ribuan.

Terdiri dari peninggalan masa kerajaan Aceh dan kolonial yang dibeli serta didapat dari hibah serta wakaf masyarakat. Seluruhnya disimpan di Pedir Museum.

Pedir Museum merupakan museum sederhana yang terletak di Jalan Banda Aceh-Medan, Desa Blang Glong, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya. Cabangnya terdapat di Kota Banda Aceh, tepatnya di Jalan Bahagia, Desa Punge Blang Cut.

Pedir Museum didirikan secara swadaya pada pertengahan 2015. Pendirian museum ini menandai satu tahun usaha Masykur dalam mengumpulkan manuskrip kuno.

Masykur awalnya berburu manuskrip pada 2014. Khazanah intelektual Aceh itu didapat dengan cara dibeli dari masyarakat biasa serta pedagang barang antik.

Pedir Museum telah memiliki 2820 koleksi. Seluruhnya dibagi dalam tujuh kelompok, yaitu manuskrip, arsip dan surat, arkeologi, senjata dan militer, kain dan tekstil, numisnatik, dan etnografi.

Penamaan museum merujuk nama Kerajaan 'Pedir' atau Pidie. Kebanyakan koleksi museum diperoleh di Kabupaten Pidie.

"Selama ini, dibiayai dengan dana pribadi dan sumbangan masyarakat. Karena pemerintah juga tidak peduli ke situ," ujar Masykur, kepada Liputan6.com, Minggu malam (30/6/2019).

Usaha tak pernah mengkhianati hasil Pedir Museum menjadi pusat praktikum salah satu kampus mengenai konservasi dan preservasi manuskrip Aceh saat ini.

Terdampar di Tangan Para Kolektor

                                                            Foto: Rino Abonita/ Liputan6.com
Banyak peninggalan bersejarah yang dilelang atau diperjualbelikan secara bebas. Berada di tangan kolektor baik di dalam maupun di luar negeri.

Pengakuan Masykur, para penjual berasal dari kalangan orang Aceh. Pembeli datang langsung ke provinsi paling barat itu lalu melelangnya ke luar.

"Karena saya orang lapangan, info itu memang ada. Dan saya tahu siapa. Cuma tidak bisa disalahkan, karena kepedulian pemerintah tidak ada," kata Masykur.

Tidak jarang benda-benda bersejarah itu dibeli kembali dari tangan para kolektor. Aset bersejarah yang terserak diburu hingga ke Pulau Jawa bahkan negeri jiran.

"Sejak 2016, kita berhasil memulangkan beberapa koleksi Aceh yang dijual ke luar. Dari Jawa, Malaysia. Selain itu, 2018, ada satu topi Aceh dari tahun 1902, sudah diperjualbelikan di Medan, ada rompi dijual di Palembang, stempel. Semua itu sudah kita beli ulang," ungkapnya.

Mengembalikan Perisai ke Tanah Sang Pemilik

Foto: Rino Abonita/ Liputan6.com
Masykur saat ini tengah berupaya menyelamatkan sebuah perisai peninggalan abad 19. Perisai tersebut telah diperjualbelikan di Pulau Dewata.

"Dari bentuk, itu perisai Kerajaan Aceh Darussalam. Periode abad 19 dalam perang Belanda. Ini perisai tembaga," jelasnya.

Meski telah berada di Pedir Museum atas jasa seseorang, namun, perisai tersebut belum menjadi aset sah. Karena belum diberikan uang tebusan.

"Sudah ada sama kita. Tapi belum selesai kita bayar sama kawan yang telah menyelamatkannya dari Bali. Masih terutang. Harga Rp3,2 juta. Terkumpul dari donatur sisa Rp1,4 juta lagi," sebut lelaki kelahiran Lueng Putu ini.

Komentar

Loading...