Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS, Harga Emas Menguat

liputan6.comilustrasi emas

New York - Harga emas menguat dalam tujuh sesi seiring harapan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve bakal memangkas suku bunga acuan pada 2019. Akan tetapi, pelaku pasar juga menanti rilis data ekonomi tenaga kerja di sektor nonpertanian.

"Sudah menjadi jelas kalau ekonomi global sedang menuju ke arah resesi lebih cepat menjadi mendalam. Satu-satunya solusi bagi bank sentral yaitu memangkas suku bunga dan memperluas basis moneternya," ujar Alasdair Macleod, Kepala Riset Goldmoney, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Jumat (7/6/2019).

Ia menuturkan, daya beli akan dirusak oleh ekspansi moneter yang agresif. Sentimen tersebut menjadi pendorong utama untuk harga emas.

Harga emas untuk pengiriman Agustus di divisi Comex naik USD 9,10 atau 0,7 persen ke posisi USD1.342,70 per ounce.

Harga emas membukukan keuntungan untuk tujuh sesi perdagangan berturut-turut. Ini penguatan terpanjang sejak 5 Januari 2018. Harga emas telah menguat 2,4 persen sepanjang pekan ini.

Indeks dolar AS yang melemah juga jadi sentimen positif untuk harga emas. Indeks dolar AS turun 0,4 persen, yang dipicu kenaikan euro. Mata uang euro menguat meski Bank Sentral Eropa berjanji mempertahankan kebijakan suku bunga rendah setidaknya hingga semester pertama 2020.

Euro Menguat

Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi tidak sepenuhnya berkomitmen pada penurunan suku bunga yang diharapkan oleh sejumlah pengamat. Sentimen itu mendorong euro lebih tinggi.

"Jika Anda berharap, bank sentral Seropa akan gagal merekayasa pemulihan ekonomi, maka membeli emas fisik adalah kebijakan terbaik," ujar Macleod.

Harga emas yang menguat karena ketegangan perang dagang antara AS dan mitra globalnya. Hal ini mendorong pimpinan the Federal Reserve atau bank sentral AS Jerome Powell menyarankan untuk pangkas suku bunga mungkin tepat jika pemberlakuan tarif impor melemahkan pertumbuhan ekonomi.

"Sentimen itu mendorong penguatan dolar AS memudar baru-baru ini, dan tren kenaikan dolar AS dalam jangka pendek tidak ada," ujar Analis Senior Kitco, Jim Wyckoff.

Komentar

Loading...