Rekor! Nilai Merger-Akuisisi Fintech Tebus Rp 1.655 T

Foto: CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki

Jakarta - Financial technology atau fintech menjadi salah satu 'barang' panas tahun ini. Bagaimana tidak, volume transaksi merger dan akuisisi fintech selama lima tahun terakhir terus meningkat. Bahkan tahun ini diperkirakan akan mencetak rekor baru.

Riset Dealogic Chisa Tanaka menyebutkan dari awal tahun hingga saat ini sudah terjadi 87 kesepakatan akuisisi dan merger di fintech nilainya US$116,6 miliar atau setara Rp 1.655,72 triliun (asumsi US$1 = Rp 14.200). Padahal tahun lalu nilai transaksi merger dan akuisisi fintech hanya US$31,8 miliar dari 89 kesepakatan.

"Jelas, inovasi teknologi menyebabkan peningkatan konsolidasi di pasar layanan pembayaran elektronik, sementara akuisisi data belanja pelanggan dan tren perilaku pelanggan sebagai pendorong akuisisi fintech," tulis Tanaka, seperti dikutip CNBC Indonesia dari Business Insider, Kamis (6/6/2019).

Kegiatan eksplosif ini telah didorong oleh tiga transaksi fintech besar yang berbasis di AS tahun ini. Pada Maret lalu, Fedelity National Information Services mencaplok Worldpay senilai US$30,3 miliar. Pada Januari Fiserv mengakuisisi First Data senilai US$39,4 miliar dan bulan lalu Global Payment akuisisi Total System Services US$26,2 miliar.

Para ahli mengatakan meski metode pembayaran elektronik semakin populer, masih lama periode masyarakat bebas dari uang tunai. Buktinya, penarikan dana tunai melalui ATM stagnan di negara maju sementara di negara berkembang malah naik.

Walaupun begitu, laporan Bank of International Settlement yang diterbitkan Maret lalu menyebutkan konsumen semakin mengandalkan pembayaran elektronik dalam bertransaksi.

"Penggunaan pembayaran elektronik sedang booming dan perusahaan teknologi serta lembaga keuangan berinvestasi besar-besaran untuk menjadi penyedia pembayaran masa depan," tulis para ekonom BIS.

"Paruh kedua 2019 kemungkinan akan terjadi lagi konsolidasi lebih lanjut di pasar untuk meningkatkan retensi data pelanggan dan memberikan kejelasan tentang kemampuan finansial dari pemain yang berbeda," ungkap Riset Dealogic Chisa Tanaka.

Komentar

Loading...