Mengukur Balasan China Jika Tarik Surat Utang AS US$1,12 T

Ilustrasi. (Reuters)

Jakarta - Perang dagang makin memancing 'taring' pemimpin kedua negara, China vs Amerika Serikat (AS). Setelah saling mematok tarif tinggi untuk barang dan jasa, AS memblokir Huawei, giliran China membalas dengan peringatan potensi ancaman kepada pelajar, serta wisatawannya yang akan berpelesir ke AS.

Alih-alih mereda, tensi tinggi hubungan kedua negara yang terjadi sejak tahun lalu malah meningkat cukup panas. Melihat kondisi ini, sejumlah investor dan analis penasaran, dan mereka mulai menimbang-nimbang jurus balas dendam apa yang akan dilancarkan China ke AS.

Sejumlah investor kemudian menyinggung soal surat utang milik AS yang digenggam China. Menurut mereka, seperti dilansir CNN.com, Selasa (4/6), China bisa saja menarik dana mereka dari kepemilikan surat utang AS yang senilai US$1,12 triliun. Media lokal China bahkan kerap mendiskusikan kemungkinan tersebut.

Kepala Strategi Pendapatan Tetap di Janney Capital Management Guy LeBas menuturkan bahwa langkah itu tentu akan melukai AS. Apalagi, surat utang AS bertenor 10 tahun jadi tolak ukur untuk berbagai kredit, mulai dari kredit rumah, kredit usaha, serta kendaraan.

"Itu lebih mungkin dilakukan saat ini daripada kemungkinan lain yang pernah ada," ujarnya.

Namun, tentu saja langkah itu menimbulkan pro dan kontra. Kepala Strategi Ekuitas Stifel Barry Bannister menyebut bahkan langkah itu menimbulkan situasi yang lebih buruk bagi ekonomi global. Sebab, sumber daya keuangan China bisa jadi malah melorot.

Apalagi, bila pelepasan surat utang dilakukan ketika imbal hasil tengah lesu. Misalnya saja, ketika China melepas surat utang senilai US$600 miliar dari rentang 2014-2016. Diketahui, saat itu nilai imbal hasil tengah melorot.

Dampak lainnya, sambung Bannister, pelepasan surat utang AS hanya akan membuat pasokan uang tunai meningkat di China. Kondisi itu berpotensi menurunkan nilai mata uang terhadap dolar AS.

Di sisi lain, pelepasan surat utang AS akan membuat sumber likuiditas bank berkurang. "Jika China mengempiskan, mereka akan memiliki lebih banyak masalah kredit macet di bank-bank lokal merekan," ungkapnya.

Selain itu, menurut dia, melepas surat utang AS tidak akan jadi langkah balas dendam yang mampu menyakiti AS, karena surat utang Negeri Paman Sam saat ini masih dianggap sebagai aset teraman di dunia.

Lihatlah, permintaan surat utang AS dari investor asing, asuransi jiwa, dana pensiun, hingga bank, tetap tinggi, meskipun kekacauan di pasar di AS meningkat.

Sementara, menempatkan uang pada surat utang negara lain belum tentu menjanjikan. Misalnya, imbal hasil surat utang Jepang dan Jerman yang masih cenderung negatif. Hal tersebut jauh lebih merugikan ketimbang imbal hasil surat utang AS yang turun hingga 2,2 persen, namun masih tetap positif.

Lebih jauh, spekulasi itu akan menempatkan China sebagai 'musuh baru' ekonomi global karena dianggap menakuti pasar, sehingga mengurangi kepercayaan investor. "China tidak akan melakukan itu. Itu langkah yang tidak ada gunanya. Bila China membuang surat utang akan membuat panik pasar global tanpa melukai AS," jelasnya.

Senada, mantan kepala perwakilan untuk Departemen Keuangan AS di China Michael Hirson memandang balas dendam dengan melepas surat utang AS hanya akan mencoreng reputasi China. Sebab, pelepasan surat utang yang berujung pada peningkatan kekhawatiran pasar justru bisa memperburuk perlambatan ekonomi dunia dan negara-negara mitra dagang China.

"China membuang surat utang AS bisa membuat panik pasar global tanpa merugikan AS. Tetapi, itu akan merusak reputasi China sebagai sumber stabilitas dan tanggung jawab," imbuhnya.

Menurutnya, China masih mempunyai banyak pilihan balas dendam yang lebih baik untuk AS. Misalnya, spekulasi bahwa China bisa memerintahkan pembatasan ekspor mineral langka yang sangat penting bagi industri teknologi dan pertahanan AS.

Langkah ini disebut tengah diupayakan Kementerian Perdagangan China saat ini, yakni dengan menyusun daftar hitam bagi perusahaan asing yang melanggar aturan pasar. Hal ini merupakan salah satu respons China terhadap larangan ekspor AS terhadap Huawei.

Di sisi lain, ia menilai China sejauh ini masih mampu mengatasi berbagai sentimen dari AS. Misalnya, kebijakan yang sudah dijalankan berupa pengurangan cadangan devisa untuk mempertahankan nilai mata uang dan menjaga stabilitas.

Komentar

Loading...