Rupiah Merosot ke Rp14.525 per Dolar AS Akibat Rusuh 22 Mei

Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Jakarta, Aceh Bisnis - Nilai tukar rupiah diperdagangkan di level Rp14.525 dolar AS pada perdagangan Rabu (22/5) sore. Dengan demikian, maka rupiah melemah 0,31 persen dibandingkan penutupan Selasa (21/5) yakni Rp14.480 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.488 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.462 per dolar AS. Adapun pada hari ini, rupiah bergerak pada kisaran Rp14.488 hingga Rp14.528 per dolar AS.

Sore hari ini, pergerakan mata uang Asia cenderung bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang melemah seperti ringgit Malaysia sebesar 0,23 persen, dolar Singapura sebesar 0,16 persen, dan yuan China sebesar 0,03 persen.

Namun di sisi lain, terdapat mata uang Asia yang menguat seperti rupee India sebesar 0,05 persen, yen Jepang sebesar 0,08 persen, baht Thailand sebesar 0,08 persen, won Korea Selatan sebesar 0,09 persen, dan peso Filipina sebesar 0,14 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong tidak bergerak melawan dolar AS.

Pergerakan yang sama juga terjadi pada mata uang negara maju. Poundsterling Inggris melemah 0,24 persen, namun euro menguat 0,01 persen dan dolar Australia menguat 0,06 persen terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini disebabkan karena maraknya aksi ambil untung yang dilakukan investor. Ini menyusul aksi kerusuhan yang terjadi sebagai respons atas hasil pemilihan umum yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) Selasa (21/5) dini hari kemarin.

Ibrahim bilang investor merasa panik setelah ada berita mengenai korban tewas dan luka-luka pada peristiwa tersebut. "Setelah itu pelaku pasar melakukan aksi profit taking dan ini terus cenderung melemahkan nilai tukar rupiah," jelas Ibrahim, Rabu (22/5).

Senada, Analis Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan demonstrasi yang rusuh membuat pasar cenderung menunggu (wait and see) sebelum berinvestasi ke Indonesia. Menurutnya, pasar masih ingin melihat calon presiden dan wakil presiden yang kalah bisa legawa dalam beberapa hari ke depan.

"Pemenang pilpres sudah clear, tapi yang kalah ini belum clear. Di samping itu, isu perang dagang juga masih mewarnai pergerakan hari ini," papar Ariston.

Komentar

Loading...