Wall Street Menguat, Harga Emas Naik Tipis

Petugas menunjukkan emas batangan di gerai Butik Emas Antam di Jakarta, Jumat (5/10). Pada perdagangan Kamis 4 Oktober 2018, harga emas Antam berada di posisi Rp 665 ribu per gram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

New York - Harga emas menguat meski masih di bawah harga psikologis signifikan di kisaran USD 1.300. Hal tersebut dipicu wall street yang menguat.

Harga emas naik tipis USD 1,5 atau 0,1 persen menjadi USD 1.297,80 per ounce. Sementara itu, harga perak stabil di kisaran USD 14.812 per ounce.

Direktur RBC Wealth Management, Geoge Gero menuturkan, harga logam mulia mendapat dukungan ketika ketegangan meningkat dengan Iran. Ditambah kekhawatiran tetap ada dalam pembicaraan dagang dengan China dan Brexit belum terselesaikan.

"Ketidakpastian global yang berkelanjutan mendukung emas sebagai aset safe haven, dan ketegangan ekonomi politik hingga politik,” ujar dia seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis (16/5/2019).

Wall street menguat dengan indeks saham Dow Jones naik 0,45 persen dan indeks saham S&P 500 menanjak 0,58 persen menekan harga emas pada sesi tersebut. Indeks dolar AS pun menguat 0,04 persen sehingga mendorong harga emas hampir mendatar.

Namun, pelaku pasar cenderung hati-hati di tengah ketegangan perang dagang AS-China dan data penjualan ritel AS lebih lemah dari perkiraan menahan sentimen menguat. Penjualan ritel pada April di AS turun 0,2 persen.

"Harapan untuk penurunan suku bunga the Federal Reserve seiring penjualan ritel melemah," ujar Analis Oanda, Edward Moya.

Produksi industri AS di April merosot 0,5 persen dan pemanfaatan kapasitas turun tajam menjadi 77,9 persen dari 78,8 persen.

Wakil Presiden Direktur GoldMining Inc, Jeff Wright menuturkan, harga emas dapat mempertahankan kenaikan moderat karena pertumbuhan produk domestik bruto (PDB)pada kuartal II sebesar 1,1 persen turun dari 1,6 persen pada Mei.

Ini berdasarkan model dari the Fed Atlanta. "Ditambah angka ritel memberikan kredibilitas terhadap kemungkinan penurunan suku bunga pada kuartal III-IV 2019, jika tren berlanjut," ujar Wright.

Komentar

Loading...